Thoughts, stories and ideas.

Uji Nyali di Sungai Koran

24th November 2017

Selesai berwisata di Danau Sebangau, kami melanjutkan dengan menyusuri Sungai Koran yang berhulu di Taman Nasional Danau Sebangau, Kalimantan Tengah.

Cerita wisata Danau Sebangau bisa dibaca di
http://erlitapratiwi.com/kipas-kipas-di-danau-sebangau/

Saya pikir perjalanan menyusuri Sungai Koran akan menggunakan perahu kayu beratap. Ternyata... jreng jreng... pakai perahu klotok!

Perahu klotok itu perahu kayu berukuran kecil tanpa palang tempat duduk. Penumpang klotok duduk bersila atau berselonjor di lantai perahu. Pengemudinya berada di bagian belakang perahu.

alt

Dian duduk paling depan disusul kk Etha, saya dan Mas Urip, suami Dian. Jurumudi duduk di buritan mengendalikan perahu. Begitu perahu meninggalkan dermaga, wuih…. Saya deg-deg-an luar biasa.

Supaya pikiran saya teralihkan, saya menyibukkan diri dengan kamera. Itupun berusaha supaya saya tidak banyak bergerak. Rasanya perahu ikut miring setiap kali saya bergerak. Kelihatan banget kalau saya berat, huhuhu… Memang sih, saya pakai pelampung. Tapi dengan kedalaman sungai 7-14 meter dengan dasar gambut, apa kabarnya nasib saya kalau perahu terbalik?

Lama-lama deg-deg-an berkurang. Saya asyik menikmati pemandangan sepanjang sungai yang didominasi pohon rasau. Bentuknya mirip pohon bakau, daunnya mirip pandan berduri, buahnya mirip cempedak atau mandai dalam bahasa setempat.

alt

Sesekali perahu klotok melintas di bawah kanopi dahan-dahan pohon rasau. Kalau pakai perahu beratap, sudah pasti nyangkut.

Tiba-tiba kk Etha berteriak sambil menunjuk hewan yang berenang di dekat perahu. Saya ikut-ikutan menjerit. Duh... latah amat yak! Mas Urip dan jurumudi menenangkan saya.

“Itu biawak bukan buaya,” begitu kata juru mudi.

(Sebenarnya itu biawak atau buaya? Jawabannya ada di bagian akhir)

Tiba-tiba, langit biru berganti mendung. Hujan turun tanpa diundang. Saya buru-buru menekuk tubuh, memeluk tas kamera agar tidak basah.

Ketika hujan semakin deras, saya melepas tas ransel dari gendongan dan menumpukkannya di atas tas kamera. Pokoknya jangan sampai tas kamera basah. Jurumudi menenangkan. Katanya, sebentar lagi kami melewati hujan.

Ternyata benar. Mendekati camp Taman Nasional Danau Sebangau di bagian hulu sungai, hujan berhenti. Sayang, jurumudi lupa membawa kunci kantor BKSDA. Padahal saat saya mengintip ke dalam, saya lihat ada termos air di atas meja di dalam kantor... Lumayan tuh, bisa buat ngopi atau ngeteh... #eh

alt

Kami langsung foto-foto. Tapi yang banyak foto-foto kayaknya saya sama kk Etha. Norak memang... tapi biarin aja deh. Hutan di Kalimantan, gitu loh!

alt

Kami beristirahat sambil ngobrol-ngobrol dengan pak jurumudi. Beberapa ekor monyet terlihat berlompatan di pepohonan tidak jauh dari tempat kami.

Saat cerita pak jurumudi sampai di bagian hewan-hewan penghuni Taman Nasional Danau Sebangau, saya yang duduk bersandar jadi menegakkan tubuh. Habis, beruang madu ikut disebut-sebut sih....

Kata Mas Urip, nama boleh imut ada embel embel madu-nya, tetap saja kita bisa dikoyak-koyak cakarnya yang tajam dan panjang. Haduuuhhh... untung saya menolak saat diajak hiking ke dalam TNDS. Coba kalau kami masuk ke dalam hutan. Jangan-jangan kami ketemu beruang dan dia mengira saya temannya.

Jadi, sebelum bertolak dari dermaga Danau Sebangau, kami ditanya apakah akan masuk ke dalam hutan atau hanya sampai camp saja. Saya pilih sampai camp. Capek kan hiking....

Selesai pak jurumudi menghabiskan rokoknya, kami pulang. Perjalanan pulang ternyata lebih cepat karena searah dengan arus sungai. Menjelang memasuki Danau Sebangau, awan gelap seperti mengejar kami.

Tanpa dikomando, kami berteriak-teriak agar pak jurumudi menambah kecepatan perahu. Membayangkan kami kehujanan di tengah danau luas berair hitam kemerahan sungguh merisaukan hati.

Makanya wajah-wajah kami langsung sumringah saat perahu klotok mendekati dermaga di tepi danau Sebangau. Akhirnya kami sampai di daratan! Alhamdulillah....

alt

Selang dua menit kemudian, hujan turun dengan derasnya. Setelah hujan reda, beberapa anak berlarian menuju ujung dermaga dan... nyebur ke dalam danau!

Et dah... bandel bener tuh bocah! Hati saya mencelos. Jarak dari dermaga ke permukaan danau cukup tinggi. Danaunya sendiri dalamnya antara 7-14 meter. Hadooohhh....

alt

“Tidak diomelin ibu kaliankah?” tanya Dian.

“Tidak,” mereka menjawab pasti. “Kan tidak ketahuan sama ibu.”

Dasar bocah!

“Putera sudah datang,” kata Mas Urip setelah selesai menelepon sopir yang mengantar kami. “Kita makan siang dulu.”

Yuk mariii... perut saya sudah lapaaarrr...

Notes:

Belakangan, setelah saya tiba di BSD, Dian memberitahu bahwa yang dibilang biawak itu sebenarnya anak buaya.

Glek!

Kalau ada anak buaya, berarti emak buaya ada dekat situ dong ya... jangan-jangan emak buaya sedang berenang di bawah klotok yang kami tumpangi.... Huwaaa…!

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments