Thoughts, stories and ideas.

Seminar Folktales & Story telling Workshop - sebuah catatan

13th August 2016

Dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-30, komunitas pencinta bacaan anak (kpba) mengadakan serangkaian acara pada tanggal 4-7 Agustus 2016 di Dia.lo.gue artspace, kemang. Salah satunya adalah Seminar Folktales and Storyteller workshop pada tanggal 5 Agustus 2016.

alt

Acara yang terbagi dua sesi, seminar folktales pada sesi pertama dan storyteller workshop pada sesi kedua, berlangsung menarik. Prof Dr Rus Rusyadi, guru besar UPI, Bandung menjadi pembicara pertama yang mendefinisikan apa yang dimaksud dengan cerita rakyat.

Cerita rakyat:
- Tersedia di dalam masyarakat - Diceritakan secara turun temurun - Menggunakan bahasa daerah

Sayangnya, belum semua cerita rakyat sudah terdokumentasi. Tingkat literasi yang rendah dan jarangnya orang tua yang membacakan cerita rakyat kepada anak-anaknya menimbulkan kekhawatiran hilangnya cerita rakyat dari masyarakat.

Gabriella Bracklo, mewakili penerbit buku di Jerman, menceritakan bahwa beberapa sekolah di Jerman memasukkan storytelling (dongeng) ke dalam jam pelajaran dan cerita rakyat dari Indonesia menjadi cerita favorit anak-anak di sana. Salah satunya adalah cerita Puteri kemang yang ditulis oleh Ibu Murtu Bunanta dan sudah diterbitkan dalam bahasa jerman.

alt

Tentu saja ada penyesuaian isi cerita untuk bisa menjembatani perbedaan budaya. Dalam cerita Puteri Kemang, diceritakan seekor kucing yang tubuhnya membesar setiap kali anjing Puteri Kemang menggonggong. Kita akan maklum bahwa kucing tersebut adalah makhluk jadi-jadian. Tetapi anak-anak di jerman tidak mengenal makhluk jadi-jadian. Akhirnya kucing tersebut diganti dengan harimau. Apakah masalah selesai? Tidak. Murid sekolah di Jerman berdonasi untuk menyelamatkan harimau yang semakin langka. Tentu mereka akan protes bila harimau yang langka itu dibunuh oleh puteri kemang.

alt

Vice presient Frankfurt Book Fair yang menjadi pembicara ketiga menjelaskan bagaimana caranya sebuah buku bisa tampil di Frankfurt Book Fair. Kalau buku tersebut tampil lewat penerbit, maka penerbitlah yang akan mengurus semua persyaratan.

alt

Sependapat dengan Prof. Dr. Rus Rusyadi, Dr. Jhonny Tjia, ahli bahasa daerah, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap bahasa daerah yang semakin jarang digunakan. Menurut penelitian, Indonesia memiliki hampir 700 bahasa daerah dan semakin banyak bahasa daerah yang punah.

Jangankan bahasa daerah, bahasa Indonesia pun sudah mulai tergerus terutama di kota-kota besar. Rasanya lebih keren kalau pakai bahasa inggris. Jangan-jangan bahasa Indonesia akan menjadi bahasa asing di negeri sendiri hiks hiks...

Makan siang menjadi pemisah antara sesi pertama dan sesi kedua. Mumpung masih ada waktu, saya menyempatkan diri melihat buku-buku tua yg dipamerkan. It's so old...

alt

Sesi kedua dibuka dengan penampilan Uncle Fat, pendongeng dari Taiwan. Mantan mayor angkatan laut ini memutuskan menjadi pendongeng karena ingin berbagi. Perlengkapan yang dibawa Uncle Fat disesuaikan dengan dongeng yang akan diceritakannya. Kali ini, Uncle Fat membawa boneka-boneka, radio dan juga telepon. Jangankan anak-anak, kami sebagai orang dewasapun terpukau mendengarkan dongengnya.

alt

Berbeda dengan Uncle Fat, Made Taro menyisipkan permainan tradisional ke dalam dongengnya. Yang lebih seru lagi, permainan itu diiringi dengan tetabuhan khas Bali.

alt

Menurut Pak Made Taro, untuk bisa menghidupkan dan mengenalkan permainan tradisional, ia tak segan mencari data dengan bertanya kepada nara sumber yang rata-rata umurnya sudah sepuh. Kami menari, tertawa dan berkejaran.

alt

Menurut Pak Made Taro, lewat permainan ini ada beberapa hal yang kami dapat.
1. Tubuh menjadi segar karena kami bergerak, berlari, berkejaran.
2. Melatih pikiran menjadi waspada karena harus mengamati agar tahu kapan giliran berlari.
3. Melatih koordinasi gerak dan pikiran.
4. Jujur.

Sambil menari berputar, diiringi tetabuhan khas Bali, kami mendendangkan lagu tentang burung kekelit yang gemar mandi-mandi di kolam penampungan air sehingga mengganggu ketersediaan air untuk mengairi sawah.

Ada kekelit maling
Musuh para petani
Dia suka mencuri
Air kolam sampai habis

Ada kekelit maling
Musuh para petani
Dia suka mencuri
Air kolam sampai habis

Wahai kawan gagak
Usir si penjahat
Wahai kawan gagak
Kwak... Kwak...

Wahai kawan gagak
Usir si penjahat
Wahai kawan gagak
Kwak... Kwak...

Dan sang gagak mengejar si pencuri....

Bukankah permainan itu lebih menarik dan menyehatkan bagi anak-anak dibandingkan mereka duduk menunduk bermain game di tablet?

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments