Thoughts, stories and ideas.

Sayap Cepi - Bobo no 46 / Feb 2017

3rd March 2017

Dongeng berjudul 'Sayap Cepi' adalah karya kedua saya yang dimuat di Bobo tahun ini. Bulan Januari lalu, dongeng saya yang berjudul 'Penghuni Pohon Misterius' juga dimuat di majalah yang sama. Cerita lengkapnya bisa dibaca di:

Dongeng Bobo - Pembuka Tahun 2017

Ide cerita 'Sayap Cepi' ini berasal dari buku tentang serangga yang saya baca.

Ternyata, saat terbang, sayap depan dan belakang capung tidak bergerak bersamaan. Itu sebabnya capung bisa terbang lebih lama dibanding serangga lainnya.
Capung juga digunakan untuk meramal cuaca. Bila capung terbang rendah, cuaca esok hari akan cerah.

Fakta-fakta itu dirangkai menjadi cerita, ciptakan konflik dengan memasukkan tokoh lain dan taraaa... jadilah cerita satu halaman.

Sederhana kan?

Yakinlah bahwa proses sebenarnya tidak sesederhana itu heuheuheu.... *kata-kata yang sama sekali tidak menyemangati.

Selalu ada usaha di balik sebuah hasil.Iya kan? Iya dong....

Cerita lengkapnya saya unggah di sini. Selamat membaca yaaa....

Cerita 1 halaman

Sayap Cepi
Oleh: Erlita Pratiwi

Cepi capung memperhatikan sayap Pupu kupu-kupu dengan iri. Saat itu Pupu sedang hinggap di sebuah tangkai bunga. Sayapnya yang berwarna hitam terbentang. Beberapa bercak berwarna kuning cerah membuat sayap Pupu terlihat indah.

Perhatian Cepi beralih ke sayapnya sendiri. Sayapnya transparan. Tidak ada sesuatupun yang membuatnya terlihat indah. Hanya ada gurat halus di sayapnya.

“Ke danau yuk!” ajak Pupu.

“Duluan saja,” tolak Cepi. Ia tidak mau terbang beriringan dengan Pupu. Pasti ia akan terlihat buruk.

Dilihatnya Pupu mengepaknya sayapnya. Sayap depan dan sayap belakang Pupu bergerak bersamaan. Pupu terlihat anggun. Cepi menggerakkan sayapnya. Sayap depan dan sayap belakangnya bergerak sendiri-sendiri. Uh! Gerakan sayapnya sama sekali tidak terlihat anggun.

“Cepi!” sebuah suara terdengar.

Cepi menoleh. Dilihatnya Cipa terbang menghampirinya. Gerakanku saat terbang pasti seburuk Cipa, kata Cepi dalam hati.

Cipa hinggap di sampingnya. “Kamu pasti iri dengan sayap Pupu. Iya, kan?” 

“Ah, tidak,” bantah Cepi. “Kamu ini seenaknya saja menuduh.”

“Kamu sendiri yang cerita kepadaku,” Cipa tertawa. “Sudahlah. Sayap kita memang tidak seindah sayap kupu-kupu. Tapi bukan berarti sayap kita buruk, kan?”

“Memang buruk kok,” balas Cepi. “Tipis, polos dan ….”

“Ah, sudahlah,” potong Cipa. “Lebih baik ikut aku ke danau. Di sana kita bisa bermain-main sambil mengobrol dengan serangga yang lain.”

Dengan malas-malasan, Cepi terbang mengikuti Cipa. 

“Loh, itu Pupu,” kata Cepi dengan heran. Pupu sedang hinggap di salah satu rumpun bunga. “Hai, Pupu,” sapa Cepi. “Bukankah kamu sudah terbang sejak tadi?” tanya Cepi heran.

Pupu merengut. “Jangan meledekku,” kata Pupu. “Kamu kan tahu kalau sayapku tidak kuat terbang lama.”

“Aku tidak bermaksud meledekmu,” kata Cepi menyesal. “Maafkan aku.”

Cipa yang terbang di sampingnya menoleh. “Nah, sekarang kamu jadi tahu. Kita bisa terbang lama karena sayap depan dan sayap belakang tidak bergerak bersamaan.”

“Benarkah? Aku baru tahu,” kata Cepi.

Di perjalanan mereka melewati serombongan anak-anak.

“Besok kita main ke danau lagi, yuk,” kata seorang anak berbaju merah.

“Mudah-mudahan esok cerah,” balas anak berbaju biru.

“Lihat saja capung-capung itu. Mereka terbang rendah. Artinya esok hari akan cerah.” Cepi mendengar anak berbaju merah berkata dengan yakin.

“Benarkah yang dikatakan anak itu?” tanya Cepi kepada Cipa.

“Tentu saja,” Cipa membenarkan. “Nah, apakah kau masih ingin menjadi seekor kupu-kupu?”

Cepi tersipu. “Tidak, ah. Aku lebih senang jadi seekor capung. Aku punya sayap yang kuat. Aku juga bisa memberi tanda esok cuaca akan cerah.”

Cipa tertawa. “Syukurlah.”

Mereka melanjutkan perjalanan menuju danau sambil bersenda gurau.

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments