Thoughts, stories and ideas.

Sawarna, Pantai Menakjubkan di Pelosok Banten Selatan

23rd September 2017

Propinsi Banten memiliki banyak potensi wisata. Sayangnya akses dan akomodasi sebagian besar tempat wisata itu masih perlu perhatian lebih. Istilah anak jaman sekarang, PR banget.

Pantai Sawarna yang terletak di Lebak, termasuk salah satu yang PR banget itu. Dari tempat saya tinggal di BSD, Tangerang Selatan, perlu waktu lebih dari 5 jam untuk sampai ke Sawarna.

Kami berangkat pukul 4 pagi untuk menghindari kepadatan lalu lintas. Saat matahari bersinar malu-malu di antara kabut pagi, kami sudah sampai di Pelabuhan Ratu.

alt

Perjalanan menuju Sawarna rasanya seperti menempuh perjalanan ke negeri antah berantah. Jauuuhhh… banget! Mendekati pabrik semen Merah Putih, debu putih menyelimuti jalan dan menghalangi pandangan. Daun-daun pepohonan di pinggir jalan berwarna putih tertutup debu. Pernah melewati pabrik Semen Tiga Roda di Palimanan, Cirebon? Nah, kira-kira keadaannya sama seperti itu.

alt

Untunglah, tidak jauh dari pabrik semen itu, kami bertemu pantai Pulo Manuk dengan air lautnya yang berwarna biru jernih dan barisan perahu. Menuruti permintaan para penumpang yang sudah bosan terkurung di mobil, pak suami membelokkan kemudi ke arah pantai.

Di pinggir pantai banyak pohon besar sehingga suasananya adem. Tersedia bale-bale bambu di bawah pohon. Pengunjung bisa duduk santai menikmati suasana pantai.

alt

Kalau lapar atau haus, tinggal pesan minuman atau makanan ke warung. Sayangnya di sini banyak monyet liar. Saya usir tapi monyetnya malah balik marah dan menyeringai memamerkan gigi-giginya… hiks…

Tak ada hotel, penginapan pun jadi

Dari pantai Pulo Manuk, Sawarna ternyata tidak jauh. Di Sawarna, tidak ada hotel. Yang ada hanya penginapan milik pribadi. Pernah menginap di Dieng? Nah, kurang lebih kondisi penginapannya seperti itu.

Yang paling recommend adalah Little Hula-hula. Bukan karena paling mewah tetapi karena letaknya bersebelahan dengan rumah makan Wa Nyai Sawarna, satu-satunya rumah makan yang representatif di Sawarna. Menunya olahan sea food, ayam, tahu tempe, tumis kangkung. Harganya standar. Rasanya lumayan enak. 

Untuk tarif penginapan, silakan bertanya dan bernegosiasi langsung pemiliknya. Tidak ada published room rate seperti di hotel. 

Pantai paket lengkap

Ingin bermain di pantai yang pasirnya lembut? Atau foto-foto di pantai yang karangnya menjulang tinggi? Atau ingin melihat hempasan ombak besar menyembur ke atas? Ingin menikmati pemandangan sunset atau sunrise? Sawarna punya semuanya.

Pantai Tanjung Layar adalah tempat yang pertama kami datangi. Dua batu karang menjulang tinggi, mirip Pantai Payung di Lombok, hanya bentuk batu karangnya saja yang berbeda.

Ombak di pantai ini besar dan menyeramkan. Untungnya ada barisan batu karang besar yang seolah menjadi 'pagar' agar ombak tidak memukul pantai. Angin terasa kencang. Saya sampai merasa seolah terdorong saat hendak memotret. Ciyusan.

alt

Bila ingin mengabadikan sunset, datanglah ke Pantai Sawarna yang mirip Pantai Senggigi di Lombok dengan deretan perahu nelayan yang siap melaut. Saya tidak menunggu sunset karena pasang mulai naik dan ombak menjadi besar. 

alt

Karena ingin melihat sunrise, keesokan harinya, pukul lima pagi, kami ke Pantai Karang Bereum.
Saya bertanya kepada mamang ojek kenapa namanya karang beureum. Ternyata ada satu bagian karang yang berwarna beureum alias merah. Berhubung hari masih temaram, warna merahnya tidak kelihatan.

alt

Tidak jauh dari Pantai Karang Beureum, ada Pantai Karang Taraje. Barisan karangnya membentuk anak tangga alias taraje. Saya ditawari naik ke atas batu karang. Tapi saya takut. Dari kejauhan saya melihat ombak samudera Indonesia memukul karang dengan keras dan menyembur ke atas. Mirip Water Blow yang ada di Nusa Dua, Bali. Karang inilah yang melindungi pantai dari empasan ombak. Bila laut pasang disertai angin kencang, ombak besar akan naik melewati bagian atas batu karang dan membentuk air terjun. Sayangnya, pagi itu ombak belum cukup besar. Ya sudahlah. Kami foto-foto saja di pantai.

Kondisi Pantai Karang Taraje mirip Pantai Tebing di Lombok Utara. Tebing batu menjulang tinggi di pantai. Batu besar berserakan walaupun tidak sebesar di Pulau Belitung.

alt

Di dinding tebing terlihat beberapa gua. Saya sempat berfoto di depan gua. Ngeri juga sebenarnya. Khawatir ada sesuatu muncul dari dalam gue seperti adegan di film.

alt

Jalan-jalan dan foto-foto ternyata bikin lapar. Kami memutuskan pindah ke Pantai Lagon Pari. Di sana kami memesan sarapan ke sebuah warung. Sarapan sambil duduk di saung memandangi laut biru… wah… luarrr biasaaa….

Penduduk setempat memasang ayunan di pohon-pohon yang ada di pantai. Sementara yang lain asyik bermain pasir, saya memilih berayun-ayun, menikmati debur ombak, desir angin dan birunya air laut.

alt

Ojek

Mencarter ojek menjadi pilihan untuk menuju pantai-pantai yang ada di Sawarna. Sebenarnya untuk ke Pantai Tanjung Layar dan Pantai Sawarna bisa saja menggunakan mobil tapi hanya sampai tempat parkir. Setelah itu jalan kaki menyeberangi jembatan kayu, menyusuri jalan kecil, melewati perkampungan dan rumah-rumah penduduk. Jaraknya lumayan jauh. Udah bener bangetlah carter ojek.

Di sekitar pantai Tanjung Layar dan Pantai Sawarna ada beberapa penginapan. Sayangnya ya itu tadi, akses jalan yang ada tidak cukup untuk dilalui mobil. Jadi, kalau datang ke Sawarna dengan menggunakan mobil, mau tidak mau menginap di penginapan di pinggir jalan kemudian ke pantai dengan carter ojek atau memilih penginapan di dekat pantai dengan meninggalkan mobil di pinggir jalan kemudian jalan kaki ke penginapan.

Untuk sekali jalan ke Pantai Tanjung Layar dan Pantai Sawarna, ongkosnya Rp. 50.000 per ojek. Mamang ojek akan menunggu dengan sabar sampai kami puas bermain di pantai dan mengantar kami kembali ke penginapan.

Sedangkan untuk ke Pantai Karang Beureum, Pantai Karang Taraje, Pantai Lagon Pari, ongkosnya Rp. 70.000. Jangan dulu berkomentar mahal. Akses jalan menuju ketiga pantai itu sungguh luar biasa. Melewati tanjakan dan turunan curam, belokan tajam, menyeberang lewat jembatan gantung yang kayunya berbunyi kriet kriet saat dilewati, menyusuri kebun. Hadoh…

Menurut mamang ojek, semua akses ke pantai dan pengelolaan pantai diusahakan secara swadaya dan dibiayai oleh dana desa. Tidak ada bantuan dari pemda. Hallo, Pemda… Sawarna is calling….

Oh iya, selama di Sawarna, saya nyaris tidak bersentuhan dengan media sosial. Sinyal telepon selular tiarap. Padahal saya menggunakan provider yang konon katanya koneksinya cepat tanpa lemot.
Sejujurnya, enak juga jauh dari ingar bingar media sosial yang tidak jauh dari urusan trafik dan memburu ‘like’. Hidup jadi lebih tenang haha…

Suatu saat nanti saya ingin kembali ke Sawarna. Semoga akses jalan dan akomodasinya sudah jauh lebih bagus.

alt

Hmmm… Kayaknya bagus juga kalau saya berfoto di Pantai Tanjung Layar dengan hijab yang berkibar terkena angin. Kelihatan dramatis gitu, huehehehe...

Catatan:
Tips ke Sawarna akan saya buat postingan tersendiri.
Picture taken by Sanan Susanto kecuali diberikan keterangan lain.

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments