Thoughts, stories and ideas.

Sara & Kasta

28th April 2015

Tanggal 3 April lalu, saya diminta mengisi acara berbagi cerita seputar menulis di salah satu grup. Sungguh saya tidak menyangka bahwa yang mengundang saya ternyata murid salah satu sekolah dasar swasta di Cirebon. Bayangkan! Dulu, jaman saya ada, jangankan terpikir membentuk grup. Internet saja saya tidak tahu heuheuheu….            Belum selesai memperkenalkan diri, saya sudah diserbu pertanyaan. Mungkin mereka terlalu bersemangat. Mungkin juga mereka pikir tidak penting untuk tahu siapa saya. Lebih penting saya menjawab pertanyaan mereka. Ada beberapa pertanyaan yang membuat mata saya membesar.   

  • Kamu masih SMP?
  • Kamu penulis KKPK?

Setelah diingatkan oleh yang membuat grup, mereka memanggil saya ‘Kakak’. Lumayanlah. Di tempat saya yoga, ada dua anggota baru yang masih duduk di bangku kuliah. Mereka memanggil saya ‘Tante’. Hiks….            Back to topic. Hampir semua pertanyaan yang mereka ajukan adalah pertanyaan yang sering saya dengar dan juga pernah saya tanyakan kepada para _suhu. _

  • Bagaimana mengatasi writer’s block.
  • Apa yang harus dilakukan saat sedang menyelesaikan sebuah tulisan, tiba-tiba mendapat ide lain yang lebih keren.
  • Bagaimana caranya supaya sebuah tulisan bisa selesai.
  • Saya suka menulis cerita berbau militer dan pertempuran. Kemana saya harus mengirimkan naskah?

Sebenarnya jawabannya relatif mudah. Hanya saja karena pertanyaannya datang pada saat yang bersamaan, saya kewalahan menjawabnya. Maklum, saya mengetik hanya dengan sebelas jari heuheuheu….            Di antara pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada satu yang membuat saya harus berpikir agak lama untuk menyusun jawabannya. Pertanyaannya kurang lebih sebagai berikut.

  • Saya sering melihat salah satu syarat tulisan: tidak menyinggung SARA. Sementara saya pernah membaca judul novel ‘Cinta Beda Kasta’. Berarti novel itu menyinggung SARA dong….

Nah, loh!            Akhirnya saya menjelaskan apa yang dimaksud dengan SARA. Setelah itu saya menjelaskan tentang judul ‘Cinta Beda Kasta’. Berhubung saya belum pernah membaca novel tersebut, saya menjelaskan secara umum bahwa kemungkinan ‘beda kasta’ yang dimaksud adalah perbedaan latar belakang kehidupan tokohnya. Supaya mudah dipahami, saya berikan contoh Putri Jasmine yang sehari-hari tinggal di Istana jatuh cinta dengan Aladin yang sehari-hari hidup sederhana. Jadi, kasta pada judul novel itu sama sekali tidak merujuk ke pengertian SARA.

Beberapa minggu kemudian saya main ke toko buku dan melihat novel ‘Cinta Beda Kasta’ ada di salah satu rak buku. Hmmm… Kapan ya novel baru saya beredar dan kembali ada di rak buku? Gimana mau beredar kalau ditolak sana sini… heuheuheu….

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments