Thoughts, stories and ideas.

PERJALANAN INI….

20th February 2015

Pangling! Mungkin itu kata yang tepat untuk melukiskan apa yang saya rasakan saat turun dari taksi dan menginjakkan kaki di stasiun Gambir. Begitu banyak gerai makanan dan minuman. Bahkan ada gerai kopi terkenal berlogo “twin-tailed mermaid”. Alangkah jauh berbeda dibandingkan kali terakhir saya naik kereta ke Surabaya sehubungan dengan tugas kantor tahun 1998.           

Pangling berikutnya adalah saat saya memasuki gerbong eksekutif kereta Cirebon Ekspres. Pramugara kereta menyambut dengan ramah. Interiornya bagus. Tempat duduknya lega. Ada tempat kakinya. Sandarannya bisa direbahkan. Sebuah bantal kecil melengkapi kenyamanan tempat duduk. Satu lagi, tersedia colokan! Wow, berarti selama perjalanan saya bisa memantau dunia maya tanpa khawatir ponsel pintar saya kehabisan daya.

Begitu kereta bergerak, saya memasang status tentang pramugara “kinyis-kinyis”.Cukup banyak yang mengomentari dan colokan itu terbukti mampu membuat daya batere ponsel pintar saya tetap terisi penuh. You know lah, membuka aplikasi sosial media itu menghabiskan daya batere.           

Rencana saya untuk tidur selama perjalanan Gambir – Cirebon batal total. Saya asyik memandang ke luar jendela. Kenangan demi kenangan yang pernah saya alami di kereta berseliweran.            

Waktu saya kecil, kami – saya, mama dan papa – rutin naik kereta ke Cirebon mengunjungi Kakek saya tinggal di Kuningan, kurang lebih satu jam perjalanan dari Cirebon. Kami selalu naik dari Stasiun Jakarta Kota. Dulu, bentuk tempat duduknya bukan “captain seat”. Papa harus memindahkan sandaran kursi agar kami tidak menghadap ‘belakang’ selama perjalanan.           

Ritual mudik lebaran turut menyumbang kenangan saya di kereta. Papa memasukkan saya lewat jendela sehingga saya bisa menempati tempat duduk lebih dulu dan menjaganya agar tidak ditempati oleh penumpang lain.            

Dulu, perjalanan Jakarta – Cirebon ditempuh selama enam jam. Kereta berhenti di setiap stasiun bahkan juga di tengah sawah, hanya untuk menunggu sinyal perjalanan. Pedagang hilir mudik di dalam kereta menawarkan dagangannya. Terkadang mereka menawarkannya lewat jendela.

Saat saya duduk di kelas tiga sekolah dasar, kami akhirnya bisa memiliki sebuah mobil. Saya masih ingat merk-nya Mitsubishi jenis colt minicab warna hijau. Cerita perjalanan berkereta pun tak lagi berlanjut. Saat saya duduk di kelas enam sekolah dasar, saya baru kembali naik kereta ke Cirebon, bersama tiga orang teman saya dan itu adalah kali terakhir saya naik kereta ke dan dari Cirebon.           

Itu sebabnya, perjalanan saya ke Cirebon hari Rabu, 18 Februari lalu menjadi semacam perjalanan napak tilas kenangan saya bersama mama dan papa walaupun keadaannya sudah jauh berbeda. Sawah yang menghijau, petani yang bekerja di sawah, anak-anak yang asyik bermain….           

Makin pangling rasanya saat saya tiba di Stasiun Cirebon Kejaksan. Sudah tersedia underpass sehingga penumpang tidak perlu lagi menyeberangi barisan rel kereta. Tukang rujak langganan kami dulu tidak ada lagi. Sebagai gantinya, di seberang stasiun berderet gerai makanan dengan menu khas Cirebon. Ada Mie Koclok, Empal Gentong, Nasi Lengko dan lainnya. Menurut teman yang menjemput saya, rasanya masih lebih enak di tempat aslinya.           

Tidak banyak waktu bagi saya untuk berjalan-jalan karena saya harus berada di radio lima belas menit sebelum pukul satu untuk mengisi acara talkshow. Walaupun waktunya sempit, saya tetap menyempatkan diri mencicipi kuliner Cirebon, membeli oleh-oleh dan ngopi. Well, without caffeine, life is boring, hahaha…. Alasan lainnya, saya khawatir tertidur di ruang siaran karena malamnya saya tidur larut malam dan sudah harus berangkat dari BSD menuju Gambir pukul empat pagi.           

Ini bukan kali pertama saya promo buku saya di radio, namun tetap saja I feel wonderful. Hujan turun dengan derasnya selama saya siaran. Lewat jendela kaca lebar saya menikmati nyanyian hujan. Talkshow sambil menikmati hujan, isn’t that great? Sayang, saya harus bersiap kembali ke Jakarta.           

Berada kembali di kereta yang akan membawa saya menuju Gambir, kenangan lainnya bermunculan. Saya ingat, kakek terkadang menyempatkan diri mengantar kami hingga di stasiun. Kami dibekali dengan banyak oleh-oleh termasuk ayam! Bukan ayam goreng atau ayam opor tapi anak ayam untuk saya pelihara di rumah. Anak ayam itu dimasukkan ke dalam kardus yang sudah dilubangi. Di dalamnya diberi butiran gabah dan air minum. Bayangkan! Bawa ayam!           

Hanya perlu waktu tiga jam untuk menempuh perjalanan Cirebon – Gambir. Ditemani segelas teh panas, saya memutar kembali kenangan masa kecil saya. Saya sampai harus mengerjap-ngerjapkan mata saya agar air mata saya tidak menetes. Sayang, saya tidak bisa lagi mengulang kenangan itu bersama papa dan mama. Pertama, saya tidak mungkin duduk di tengah di antara papa dan mama. Kedua, papa sudah tidak lagi bersama kami.           

Senja sudah berlalu saat akhirnya saya menginjakkan kaki kembali di stasiun Gambir. Sebuah perjalanan singkat penuh kenangan.

Perjalanan ini terasa sangat menyenangkan
Sayang, engkau tak lagi di sisiku, Papa….

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments