Thoughts, stories and ideas.

Outline dan Mewarnai

29th January 2016

Ceritanya saya sedang membuat outline untuk naskah novel baru. Seperti biasa, sebelum menulis saya menyiapkan outline atau kerangka karangan. Outline ini penting agar cerita yang saya buat tetap berada pada jalurnya dan tidak ‘lari’ kemana-mana.

Bagi saya pribadi, membuat outline ini seringkali lebih sulit daripada menyelesaikan naskah. Belajar dari pengalaman menyelesaikan dan merevisi tiga novel misteri anak-anak sebelumnya, kali ini saya mengajukan banyak pertanyaan kepada diri saya sendiri, kenapa begitu? Kenapa begini? Kenapa tokohnya melakukan hal itu? Logiskah kalau seperti ini?

Saat pikiran tenang, kondisi badan sedang fit dan segar, merangkai cerita, menjalin konflik dan menyusun fakta bukan satu hal yang memerlukan waktu berhari-hari untuk menyelesaikannya. Namun saat hati jengkel, pikiran kusut, badan lelah mengerjakan tugas domestik yang ‘never ending story’, menyelesaikan outline menjadi sesuatu yang amat sulit diwujudkan. Dan, saya makin jengkel dibuatnya.

Jengkel saja tentu tidak menyelesaikan masalah. Harus dicari cara untuk membuat pikiran jadi rileks. Saat berkeliling di dalam toko buku Gramedia, saya menemukan banyak sekali buku mewarnai untuk dewasa. Setahu saya, kegiatan ini memang sedang ‘hits’. Di situ tertulis bahwa mewarnai bisa membuat pikiran jadi rileks. Saya jadi tergoda untuk membelinya.

Sambil menunggui anak saya les atau menunggu dua anak saya keluar dari dalam kelasnya masing-masing, saya mewarnai. Ada kepuasan saat akhirnya berhasil membuat halaman yang semula hitam putih berubah menjadi penuh warna.

alt

Kegiatan mewarnai ternyata bisa meredam kejengkelan saya dan menetralisir kekusutan pikiran saya. Sebenarnya, saat sedang jengkel dan kusut, saya lebih suka tidur. Dengan tidur, saya bisa melepaskan beban pikiran dan mengistirahatkan tubuh. Masalahnya, macan ternak seperti saya tidak bisa tidur sesuka hati. Tahu macan ternak kan? Itu loh, mama cantik anter anak. Bukannya congkak bukannya sombong, jam terbang saya sebagai sopir boleh diadu dengan sopir taksi.

Lalu apakah mewarnai membuat outline saya berubah jadi bagus? Tentu saja tidak. Sampai sekarang, saya masih merasa belum ‘sreg’. Namun sedikit demi sedikit saya bisa memperbaiki yang terasa tidak ‘sreg’ itu. Mudah-mudahan setelah menyelesaikan mewarnai satu halaman lagi, saya bisa membuat ‘outline’ itu terasa sreg di hati.

Saat kusut melanda, kegiatan mewarnai ternyata mengasyikkan juga!

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments