Thoughts, stories and ideas.

MISTERI PANTAI MUTIARA – BEHIND THE SCENE

1st February 2015

Buku cerita misteri anak-anak berjudul “Misteri Pantai Mutiara” ini adalah buku pertama saya yang terbit di tahun 2015 dan buku bergenre misteri yang pertama saya tulis. Buku yang saya tulis saat saya mulai percaya bahwa saya sudah tidak bisa lagi menulis. Membuat tulisan menjadi sesuatu yang “mission impossible”. Selama tahun 2014, tidak ada satupun naskah yang ‘jadi’. Malah saya berulangkali kalah lomba. Hanya satu novel saya yang terbit di tahun 2014. Itupun bawaan dari tahun sebelumnya. Selebihnya hanya resensi yang dimuat di Kompas anak. Walaupun saya hanya penulis jadi-jadian, bukan penulis yang rajin menelurkan naskah, apalagi penulis best seller yang novelnya diangkat jadi film,  tetap saja saya merasa tahun 2014 itu benar-benar tahun yang menyedihkan.         Akhirnya saya memutuskan mencoba kembali dari awal. Menjelang akhir tahun 2014, saya ikut audisi di sana, di situ, ikut kompetisi di sini. Seorang teman yang juga penulis (beneran) bertanya kenapa saya ikut proyek antologi pdahal saya sudah punya enam buku solo dan satu buku kesehatan duet. Alasannya sederhana. Lewat audisi itu saya belajar menulis lagi. Itu pun ternyata masih juga tidak lolos di salah satu audisi bergengsi yang dewan jurinya terdiri dari para suhu, hiks….        Mengikuti saran si teman penulis, saya mencoba membuat naskah cerita anak misteri. Mungkin menulis sesuatu yang baru akan membuat sel-sel kelabu otak saya mau diajak kerjasama. Saya kemudian membeli dua buah novel anak misteri. Setelah membaca sampai selesai, saya malah jadi menelan ludah. Lah wong sedang tidak bisa menulis kok malah mau bikin naskah yang mencampurkan misteri dengan pengetahuan! Hadeeuhh….       Toh, akhirnya, jadi juga saya mencoba membuat naskah misteri. Kenapa Lombok? Karena tempat lainnya sudah terlalu mainstream, haha… Nggak gitu, ding hehe... Akhir tahun 2013 saya dan keluarga berlibur ke Lombok. Ya sudah, saya manfaatkan saja liburan di Lombok untuk setting cerita. Ajaibnya, naskah itu selesai dalam waktu tiga minggu. Tanggapan dari editornya juga termasuk cepat. Lalu, apakah proses selanjutnya berjalan mulus? Ya nggak, dong….        Setelah dua kali revisi, saya putuskan untuk datang langsung menemui editornya. Supaya jelas apa mau editor. Alasan lainnya, saya ingin liburan akhir tahun tanpa berhutang revisi naskah. Sehari sebelum libur panjang Natal dan Tahun Baru, naskah itu akhirnya siap. Sengaja di-pending menunggu saya pulang dari Lombok. Ada setting yang harus saya cek supaya cerita yang ada di naskah sesuai dengan aslinya. Sejak tengah tahun, saya dan keluarga berencana menghabiskan liburan akhir tahun ke Lombok lagi. Jadi, bukan karena harus mengecek naskah sehingga saya pergi ke Lombok.       Yang membuat saya takjub, ternyata setting yang harus saya cek itu, sama persis dengan aslinya. Padahal waktu saya menuliskannya, saya hanya berkhayal bahwa di tepi pantai dekat tempat budidaya mutiara ada gudang tanpa jendela. Alhamdulillah, berarti naskahnya tidak ada yang harus diubah lagi.        Beres urusan naskah, saya membaca pengumuman kompetisi menulis cerita horor kerjasama salah satu penerbit dengan radio Sonora. Sempat bengong waktu tahu cerita saya menjadi pemenang pertama. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya. Jangan-jangan jurinya salah….        Naskah novel anak misteri itu akhirnya terbit tanggal 23 Januari dan mulai beredar di toko buku tanggal 26 Januari. Sulit menggambarkan perasaan saya saat melihat novel itu ada di rak buku Gramedia. It’s so hard to believe…

Sekarang saya mulai menulis lagi. Kadang-kadang perasaan tidak bisa menulis itu masih datang. Biarlah… maybe this is the way the story goes. Menyelesaikan sebuah tulisan tidak terlalu sulit. Yang sulit adalah membuat tulisan yang sesuai dengan yang diinginkan pihak-pihak yang berkepentingan dengan tulisan itu. Bukan begitu bukan?

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments