Thoughts, stories and ideas.

Misteri Sosok Wangi – Di balik Cerita

31st March 2016

Setelah melalui proses panjang dan berliku, akhirnya novel anak ‘Misteri Sosok Wangi’ ini terbit di penghujung bulan Maret 2016. Ini novel misteri ketiga yang saya tulis untuk seri misteri favorit Penerbit Kiddo – KPG. Kalau hanya menerbitkan dua novel anak misteri rasanya kurang gimanaaa gitu, hehe….

Misteri Sosok Wangi mengambil setting di Bangkalan, Madura. Awalnya, saat melihat-lihat foto-foto di Instagram, tiba-tiba terbayang serunya petualangan di sana. Bisa seru-seruan di mercusuar atau di tambang bukit kapur. Merasa penasaran, saya kemudian memutuskan jalan-jalan ke sana.

alt

Begitu sampai di Bangkalan, apa yang saya bayangkan langsung buyar. Ternyata kedua tempat itu tidak bisa dijadikan tempat persembunyian atau penyekapan atau semacam itulah. Kenapa? Bacalah bukunya. Nanti teman-teman akan tahu alasannya.

Saya pikir, ya sudahlah, saya akan menikmati acara jalan-jalannya saja. Mumpung saya pergi berdua saja dengan pak suami, uhhuuuyyy…

Gara-gara mampir membeli batik, si misteri malah muncul dengan sendirinya. Sebenarnya kemunculan si misteri itu sudah sangat terlambat karena kami dalam perjalanan kembali ke Surabaya. Tidak apa. Better late than never.

Sampai di rumah, cukup lama juga saya maju mundur cantik. Tulis… enggak… tulis… enggak… Akhirnya saya putuskan untuk menulisnya. Kalaupun ditolak, ya sudahlah. Ah, tapi rasanya belum ada yang menulis cerita seperti yang saya tulis.

Setelah mengirimkan naskah misteri, saya disibukkan dengan naskah nonfiksi. Sayapun berandai-andai, nanti kalau sudah selesai, saya akan leyeh leyeh, nonton film, baca buku dan lain-lain dan sebagainya dan seterusnya.

Belum juga semua rencana indah saya terlaksana, sebuah email saya terima pada suatu pagi. Isinya, pemberitahuan naskah misteri ini diterima tetapi beberapa bagiannya harus direvisi. Alhamdulillah… Kalau soal revisi sih, sudah biasa. Siangnya saya menerima email lain. Isinya naskah nonfiksi harus saya revisi. WHAT?! Seumur-umur, baru kali ini saya menerima dua email yang isinya minta revisi, dari dua penerbit berbeda, untuk dua naskah yang berbeda jenisnya, dan kedua email itu hanya berselang hitungan jam. Duh, rasanya saya jadi pengen piknik!

Akhirnya saya menerapkan prinsip FIFO alias First In First Out. Maklumlah, selama kuliah di jurusan perpajakan, saya dicekoki mata kuliah akuntansi sejak semester dua. Walaupun sekarang saya alih profesi jadi sopir, istilah akuntansi masih melekat di hati.

Selesai merevisi naskah misteri, lanjut revisi naskah nonfiksi, balik lagi merevisi naskah misteri karena menurut editor masih ada yang kurang, lanjut lagi revisi naskah nonfiksi karena ada yang harus diganti. Haduh duh duh duh… Saya membulatkan tekad bahwa semua revisi harus selesai sebelum saya dan keluarga berangkat liburan akhir tahun. Alhamdulillah… semuanya selesai dan saya bisa liburan dengan tenang.

Setelah tahun baru, saya pikir saya sudah bisa memulai naskah baru. Ternyata, ada beberapa hal yang harus disesuaikan lagi. Entah sudah berapa gulung tissue yang habis untuk mengelap keringat dan menghapus air mata selama mengerjakan naskah misteri ini. Kata Mas Bambang Irwanto, “Mendingan pakai handuk aja, Mbake. Bisa dicuci dan dipakai lagi.” Saya buru-buru mencari handuk kecil. Mas Bambang memang luarrr biasa!

alt

Selesai proses revisi, bukan berarti saya bisa selonjor cantik. Teman-teman sudah tahu bukan, seri Misteri Favorit dilengkapi dengan fakta unik. Nah, kehadiran fakta unik memengaruhi layout buku. Jadi, setelah ilustrasi dan fakta unik dimasukkan ke dalam naskah, naskah yang sudah rapi bisa berantakan. Akhirnya ada paragraf yang harus dipendekkan, ada juga yang harus ditambah agar layout-nya pas. Di sini, editor dan penulis dituntut bekerjasama dan menjalin komunikasi yang baik. Saya suka sedih kalau ada yang meremehkan penulis buku anak hiks...hiks...

Jauh sudah jalan yang ditempuh dan akhirnya Misteri Sosok Wangi terbit. Semoga kehadirannya menambah wangi dunia perbukuan. Terima kasih kepada para editor, teman-teman baik hati yang sudah menemani hari-hari penuh tempelan koyo, juga keluarga tercinta. Spesial untuk pembaca buku saya, tanpa kalian, saya bukanlah siapa-siapa. Luv you all….

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments