Thoughts, stories and ideas.

Menulis, kapan dan di mana?

13th February 2017

Ketika saya mulai belajar menulis dulu, saya mengetik di laptop, malam hari saat semua mata penghuni rumah terpejam. Kecuali mata saya tentunya. Lah, kalau mata saya terpejam artinya saya ikutan tidur. Iya kan? Iya dong...

Kalau menulis malam hari rasanya lancar. Mungkin karena suasana hening dan tidak ada gangguan.

Selama hamil si bungsu dan sampai berusia kira-kira dua tahun, saya sama sekali tidak menulis. Boro-boro mau menulis, mau makan dengan tenang dan menikmati mandi saja rasanya sulit. Maklum, hanya ada ART pulang hari yang menemani saya.

Setelah mulai menulis lagi, ternyata saya tidak kuat lagi menulis malam hari. Yang sering terjadi, saya ngelonin si bungsu dan terbangun saat adzan subuh berkumandang. Hadeuh....

Akhirnya, ini cara saya agar bisa tetap menulis:
1. Menulis siang hari saat ada jam kosong.
2. Saat sedang merevisi atau proofing naskah atau sedang dikejar tenggat waktu, saya menyepi di pojokan gerai kopi. Saya minta mbak ART menunggui si kecil. Konsekuensinya, saya harus membayar uang lembur mbak ART. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk setiap sesuatu, iya kan? Iya dong...

Semakin ke sini, semakin sulit menulis dengan 'benar'. Dalam artian, menyalakan laptop dan duduk mengetik di ruang kerja. Salah saya juga sih sebenarnya. Seolah kurang repot, saya menambahkan kegiatan buka lapak di kantin ke dalam jadwal harian saya. Pertimbangan saya, kadang-kadang bosan juga terus menerus mengurusi naskah. Saya perlu kegiatan lain untuk mengalihkan perhatian. Kalau bisa sih yang ada uangnya haha... lagipula, buck lapak ini hanya sampai pk. 10 pagi jadi tidak terlalu menyita waktu saya.

Jadi, ini cara yang saya lakukan:
1. Mengetik di notes telepon pintar. Setelah selesai, baru dipindahkan ke komputer jinjing. Membaca ulang dan mengedit tetap saya lakukan di komputer jinjing.
2. Mengetik sesempatnya dan manfaatkan waktu yang ada. Bisa sambil nunggu di parkiran, atau sambil selonjoran sebelum jadwal tugas berikutnya.
3. Buka laptop hanya untuk mengedit, merapikan dan mengirimkan naskah.

alt

Alhamdulillah, buku-buku saya masih bisa terbit dan saya bisa teratur mengirim naskah jalan-jalan untuk web rumahjamurkurcaci. Sayangnya sekarang web-nya sudah tutup. Hiks hiks....

Jadwal menulis kembali terguncang saat saya menekuni kembali fotografi yang sempat terlupakan setelah lulus kuliah dan bekerja. Untuk mengasah intuisi foto, saya mengikuti beberapa akun fotografi di Instagram dan mengunggah foto-foto saya di sana. Foto-foto saya makin bagus (kalau bukan saya yang memuji siapa lagi, iya kan? Iya dong) tapi jadwal menulis saya keteteran huhuhu... kalau disuruh memilih salah satu, saya gak mau haha...

alt

Akhirnya saya menggabungkan dua langkah di atas.
1. Mengetik di notes telepon genggam
2. Mengetik siang hari saat jeda di antara jadwal kegiatan harian
3. Mau tidak mau, sesekali terpaksa mengurangi jam tidur atau mengorbankan jam leyeh leyeh.
4. Posting foto sesempatnya saja.
5. Mencatat kegiatan penting hari di post-it dan tempelkan di setir mobil agar tidak lupa. Maklum, dengan jadwal berderet, kemungkinan lupa itu besar sekali huhuhu....
6. Fleksibel. Kalau ada sesuatu yang merusak jadwal, geser atau pindahkan jadwal lainnya. Ini ada di buku saya '77 Mantera meningkatkatkan Produktivitas ala Miliarder'. Baca deh :)
7. Legowo. Ikhlaskan saja kalau karena sesuatu hal di luar kendali kita membuat jadwal yang sudah disusun menjadi berantakan. Eh, tapi jangan menyalahkan keadaan terus menerus ya! Kita juga enggak suka kan disalah-salahin terus.

Apakah berhasil? Ada sih hasilnya, tapi belum stabil. Masih harus memantapkan langkah. Hmmm... bukankah hidup ini memang tidak mudah?

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments