Thoughts, stories and ideas.

Menjelajah 45 Danau Alami Unik dan Jarang Dikenal Publik di Kepulauan Indonesia

20th July 2017

alt

Judul : Hikayat 45 Danau Indonesia – Seri Pesona Cerita Wisata

Tim Penyunting : Budi Setyarso, Setri Yasa, Yandhrie Arvian, Seno Joko Suyono, Redaksi KPG
Tim Produksi : Djunaedi, Eko Punto Pambudi, Indra Fauzi, Rudy Asrori,Tri Watno Widodo
Perancang Sampul : Landi A. Handwiko
Penataletak : Dadang Kusmana
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerja sama dengan Tempo Publishing
Terbit : Cetakan I, Mei 2017
Harga : Rp. 80.000

Terhampar dari Aceh hingga Papua, setiap danau alami di Indonesia memiliki kekhasan. Letaknya di puncak pegunungan ataupun terkungkung di antara lelautan. Di balik keelokan panoramanya, danau-danau itu memiliki cerita kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Di Danau Gunung Tujuh, Jambi, misalnya, berkembang legenda tentang Orang Pendek. Konon, menurut para leluhur yang dulu tinggal di wilayah tersebut, Orang Pendek adalah makhluk jadi-jadian. Danau Kakaban di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, memiliki kekayaan alam berupa ubur-ubur unik yang tak menyengat. Jutaan spesies laut lain meruap di danau ini. Ada pula tiga danau di pelosok timur Papua yang ditemukan oleh pilot Angkatan Laut Kerajaan Belanda, Frits Julius Wissel, pada 1938.


Tidak seperti buku-buku travelling yang pernah saya beli, yang menyisakan rasa tidak puas, buku perdana seri “Pesona Cerita Wisata” ini memenuhi apa yang saya harapkan dari sebuah buku travelling.

Buku yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo November 2016 ini tidak hanya menyajikan liputan danau sebagai destinasi wisata tetapi juga dilengkapi dengan peta lokasi, hikayat yang melekat, cerita masyarakat yang tinggal di sekitar danau, proses geologis hingga informasi moda transportasi yang digunakan untuk menuju danau tersebut. Juga ada tips perjalanan dan rekomendasi aktivitas saat melancong ke sana.

Mungkin karena ditulis oleh para jurnalis, jalinan kata-kata di buku ini enak dibaca. Sentuhan personal yang hadir lewat cerita yang dialami para jurnalis saat meliput, membuat buku ini tidak hanya berisi paparan destinasi wisata. Penggunaan kertas luks memungkinkan foto-foto berkualitas bisa tercetak dengan indah dan memesona. Kalaupun ada kekurangan, beberapa foto ditempatkan melebar pada dua halaman sehingga terpotong di tengah. Keindahannya terganggu oleh batas halaman.

Buku ini sukses membuat saya baper maksimal. Sebagai penyuka jalan-jalan, saya jadi baper karena baru sebagian kecil dari danau-danau yang ada di buku ini yang pernah saya datangi. Sebagai penyuka fotografi, saya jadi baper melihat foto-foto yang tersaji indah. Foto-foto saya (pastinya) kalah jauh dari foto-foto yang ada di buku ini. Sebagai penulis (ciyeeehhh… ngaku penulis :p) ada keinginan suatu saat nanti bisa membuat buku yang dicetak seperti buku ini.

Membaca buku ini membuat mata saya lebih terbuka akan keindahan Indonesia. Ada rasa iri saat membaca keindahan danau-danau yang ada di buku ini lebih dulu dinikmati oleh wisatawan asing dibandingkan wisatawan lokal. Ada rasa sedih saat tahu nama danau-danau ini lebih dulu terkenal di mancanegara dibanding di sini. Ada rasa tak sabar ingin membaca jilid kedua, Kisah Berdesir dari Pesisir Laut.

Saya jadi tidak sabar ingin segera membaca jilid kedua, Kisah Berdesir dari Pesisir Laut.

Jangan mau kalah dengan wisatawan asing menjelajahi keindahan negeri ini.

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments