Thoughts, stories and ideas.

Menikmati Pagi di Sungai Kahayan

7th December 2017

Don't push the river, it flows by itself (Fritz Perls)

Tempat yang akan kami datangi pada Minggu pagi adalah tepian Sungai Kahayan. Berhubung Car Free Day, kami harus bersabar menunggu Putera yang muter muter mencari jalan agar bisa menjemput kami di hotel.

Baru pukul delapan pagi tapi matahari sudah terasa menyengat. Banyak remaja dan anak-anak yang asyik bermain atau sekadar duduk-duduk di taman di sekitar Sungai Kahayan. Suasananya mirip dengan tepian Sungai Musi dekat jembatan Ampera, di seberang Benteng Kuto Besak.

alt

Begitu sampai di dermaga tepi sungai, saya langsung memutuskan tidak mau mencoba wisata sungai Kahayan. Sungainya lebar banget! Ditambah lagi arusnya deras dan berputar. Walaupun ukuran perahunya besar, tetap saja seram. Mungkin ini semacam efek naik klotok dan bertemu anak buaya, hiks.... jauh lebih aman foto-foto dengan latar belakang jembatan Kahayan. Anggap saja sedang di Sydney... ihhiiirrr....

alt

Jembatan Kahayan ini menghubungkan kota Palangkaraya dan kota Buntok. Sebelum ada jembatan ini, bila ingin ke Palangkaraya, mereka yang tinggal di Buntok harus memutar dulu lewat Banjarmasin atau naik perahu lewat sungai Kahayan.

Kami kemudian ke bawah jembatan Kahayan. Saya sempat membaca di internet kalau di bagian bawah jembatan Kahayan ini ada kerajaan ghaib. Seram ya... tapi kalau menurut saya sih, berada di bawah jembatan terasa seram karena saat kita mendongakkan kepala, kita akan melihat bentang jembatan di atas kepala kita.

Ternyata di bawah jembatan, di tepi sungai Kahayan, ada semacam pelataran. Pelataran itu menjadi tempat anak-anak latihan menari.

alt

Lebar sungai Kahayan ini sekira 600 meter. Bayangkan sendiri panjang bentang jembatannya.

Tembok di bawah ujung jembatan terdapat lukisan yang menggambarkan cerita Puteri Junjung Buih.

alt

Sementara di tembok bagian samping terdapat lukisan ukiran dayak. Saya asyik foto-foto. Malu juga sih diliatin orang atau pengendara yang lewat. Tapi biar sajalah. Entah kapan lagi saya ke Palangkaraya. Jadi momen ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

alt

Selesai foto foto, baju saya sudah basah oleh keringat. Kalau menurut analisa saya, Kalimantan itu bukan cuma panas tapi kelembapannya tinggi. Saya mau ganti baju tapi baju saya tinggal satu. Padahal kami masih akan menuju Bukit Batu Kasongam dan Taru Manyan.

Ya sudahlah... nanti juga kering kena ac mobil hahaha...

Ada apa di Bukit Batu Kasongan? Nanti saya ceritakan ya!

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments