Thoughts, stories and ideas.

Menikmati Hening di Tempat Menyepi Pahlawan Nasional Tjilik Riwut

20th December 2017

Serenity is not freedom from the storm, but peace amid the storm (unknown)

Masih cerita jalan-jalan saya dan si kakak ditemani Dian dan suaminya di Palangkaraya.

Puas menikmati minggu pagi di tepian Sungai Kahayan, kami melanjutkan perjalanan ke kota Kasongan, kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Tempat yang kami tuju adalah Bukit Batu Kasongan.

alt

Foto oleh: Dian Effendy

Sepanjang perjalanan Palangkaraya – Kasongan, saya yang duduk di bangku belakang tengah terkagum-kagum melihat speedometer mobil yang bolak balik di angka 130-120-100-130 km/jam. Di Kalimantan ini sepertinya kampas rem awet karena jarang dipakai :D

Saya sempat melihat kawasan yang digadang-gadang akan dijadikan ibukota RI bila jadi pindah ke Kalimantan Tengah. Saya hanya manggut-manggut mendengar penuturan Mas Urip sampai lupa memotret. Penyakit saya memang gitu, suka lupa motret. Maklumlah, namanya juga potograper amatir :D

Sesuai namanya, Bukit Batu adalah sebuah bukit dengan batu-batu berukuran besar tersebar rapi memenuhi bukit. Mirip seperti pantai di Belitung. Yang membuat saya heran, dari mana asal batu-batu itu? Di sekeliling Bukit Batu hanya ada hutan-hutan, tidak ada pantai, dan tidak gunung berapi.

Belakangan, setelah saya sampai di rumah, saya browsing dan menemukan artikel tentang asal mula batu-batu yang ada di Bukit Batu Kasongan. Legendanya mirip dengan cerita Joko Tarub dan Tujuh Bidadari. Nah, silakan cari sendiri, ya!

Pada batu besar yang menjulang tinggi, tertulis pesan Tjilik Riwut, “Petehku, Isen Mulang” yang artinya: pesanku, jangan menyerah.

alt

Kamera: Fuji XT-10, F Number: 4, Focal Length: 21.1 , Foto: koleksi pribadi

Gerimis yang menyambut, tidak menghalangi antusiasme saya naik ke atas bukit. Efek malas olahraga langsung terasa. Baru naik segitu saja, napas saya sudah tersengal.

alt

Kamera: Iphone 6, F Number: 2,2 Focal Length: 4.15 Foto: koleksi pribadi

Untunglah, tak lama kemudian gerimis itu berhenti. Di atas bukit, terdapat batu besar tempat Tjilik Riwut duduk menyepi.

alt

Kamera: Fuji XT-10, F Number: 3,5 Focal Length: 16 Foto: koleksi pribadi

Dari puncak bukit, mata saya disuguhi pemandangan hijau. Suasana terasa hening dan senyap. Pikiran terasa tenang dan jernih. Pantas saja Tjilik Riwut memilih tempat ini untuk menyepi.

Sekedar info, Tjilik Riwut adalah putra asli suku Dayak yang menjadi gubernur pertama propinsi Kalimantan Tengah. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama bandara di propinsi Kalimantan Tengah.

Di Bukit Batu Kasongan ini banyak sekali selendang kuning terbentang dan melilit batang-batang pohon. Selendang kuning ini kurang lebih sama dengan kain poleng yang sering kita lihat di pohon-pohon besar di Bali.

alt

Kamera: Fuji XT-10, F Number: 4,5 Focal Length: 25,6 Foto: koleksi pribadi

Turun dari bukit, penjelajahan berlanjut ke rumah Betang yang letaknya hanya sepelemparan batu. Sayang, kondisi rumah Betang itu tidak terawat. Beberapa anak tangga hanya menyisakan rangka besi. Akhirnya saya mengurungkan niat untuk naik ke atas.

alt

Kamera: Iphone 6, F Number: 2,2 Focal Length: 4.15 Foto: Koleksi pribadi

Entah kenapa, saya merasa, kita ini pintar membangun sesuatu tetapi tidak pandai merawatnya bahkan cenderung merusaknya. Buktinya, di beberapa permukaan batu, saya bisa melihat jelas coretan-coretan alay semacam si Anu love Itu, si Itu dan si Ini love forever. Hadeuh… plis deh….

Sebelum meninggalkan kawasan Bukit Batu Kasongan, saya menyempatkan diri menoleh menikmati pemandangan bukit berbatu sekali lagi. Entah kapan saya bisa remblai ke sini. Yang jelas, pesan Tjilik Riwut akan saya ingat selalu. Isen Mulang – Jangan menyerah!

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments