Thoughts, stories and ideas.

Mengejar SCARA

21st October 2018

Semakin ku kejar semakin kau jauh
Tak pernah letih tuk dapatkanmu
Terus berlari namun ku takut terjatuh lagi
(Five Minutes)

Kira-kira seperti itulah yang saya rasakan setiap kali ikutan seleksi apalah atau lomba apalah. Semakin saya persiapan ini itu supaya lolos, saya malah gak lolos. Kesian yak, hahaha

Jadi, ketika membaca tautan tentang SCARA - seleksi calon penulis Skenario Cerita Anak Nusantara yang diadakan Bekraf, Studio Base, Wahana Kreator dan PFN, saya berencana ikutan tapi tidak mau lagi melakukan persiapan khusus. Apalagi saat membaca nama-nama mentornya. Bisa dipastikan akan ada banyak sekali penulis skenario ambil bagian. Apa kabarnya saya yang cuma remah-remah rengginang di dasar kaleng Khong Guan?

Saya kemudian menghubungi Mochamad Romalis, teman lama yang sedang sibuk nge-direct film pendek tentang Angkasa Pura Bandara Ngurah Rai, Bali. Pertanyaan saya,

sinopsis skenario yang baik itu seperti apa?

Jawabannya:

Sinopsis yang detail, yang saat dibaca sudah bisa memberikan gambaran akan seperti apa filmnya nanti.

Saya ngebut bikin sinopsis, adaptasi dari salah satu novel misteri saya. Setelah itu minta tolong Lusi alias Uci alias Faiha Ansori untuk membaca sinopsis yang saya buat. Saran dari Uci:

Usahakan konfliknya jangan berjalan linier. Masukkan konflik lain supaya lebih seru. Tapi kalau memang tidak memungkinkan, tidak apa.

Berhubung tidak ada waktu lagi, saya masukkan sinopsis yang sudah saya bikin. Seperti kata Uci, hidup itu enggak seru kalau gak ada penolakan. Nanti rasanya datar datar aja. Semacam penghiburan kalau saya nantinya tidak lolos, hahaha....

Dari 645 orang yang ikut seleksi, 640 lolos seleksi administrasi, saya termasuk salah satu dari 40 orang yang dipanggil untuk sesi interview.

Kalaupun saya tidak dipanggil lagi, saya cukup bangga (sekaligus sedih) bahwa saya dikalahkan oleh anak-anak muda yang hebat hebat. Dari hasil nguping obrolan sesama peserta, saya jadi tahu ada yang baru lulus kuliah bahkan ada yang sedang berjuang lulus kuliah, berarti hanya selisih 4 tahun dengan Etha, hahaha... dan mendadak saya merasa amat tua :p

Saat akhirnya menjadi salah satu dari dua puluh penulis skenario yang mengikuti pelatihan, rasanya senang banget dan deg-deg-an banget. Mungkin Allah sedang memberi kesempatan saya untuk belajar lebih dalam lagi, sesuatu yang pernah saya kenal 10 tahun yang lalu. Kali ini melalui melalui mentor yang berbeda dan cara yang berbeda.

alt

Semoga saya bisa mengikuti workshop sampai selesai nanti akhir November. Masalahnya, wabah cacar air sedang menyerang di rumah. Setelah Nino cacar air (bertepatan dengan workshop pertama), sekarang giliran Etha kena cacar air. Padahal Etha udah pernah cacar air dulu saat SMP.

Saya cuma bisa pasrah... bukankah Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi hambanya?

Sepertinya jadi kaum elderly di workshop membuat saya jadi bijaksini hahaha....

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments