Thoughts, stories and ideas.

LALU..?! AU AH GELAP!

26th December 2013

Pernah gak memperhatikan buku-buku yang berjajar rapih di rak buku Gramedia? Begitu banyak. Sementara masing-masing penerbit mempunyai target berapa buku yang akan diterbitkan setiap bulannya. So, dengan sedemikian banyak jumlah buku, bagaimana caranya buku-buku bisa ‘eksis’ di rak buku? Jawabannya mudah saja.: menggeser buku yang ada di rak buku. Terutama buku-buku yang penjualannya ‘slow moving’.            Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang ‘cek-ker’ dari salah satu penerbit. Dia bercerita bahwa umur buku itu sangat singkat terutama buku-buku fiksi. Kurang lebihnya sekitar tiga bulan saja. Novel fiksi terbitan ‘kelompok penerbit’ biasanya lebih beruntung karena umurnya ‘sedikit’ lebih banyak. Sekitar enam bulan.            Lalu bagaimana nasib novel remaja saya ‘Takoyaki Soulmate’? Ya, sama saja. Kira-kira enam bulan setelah beredar, novel itu mulai ‘turun rak’ alias kembali ke tempat asalnya: gudang buku penerbit. Awalnya saya pikir stok novel di salah satu toko buku yang saya datangi habis. Ternyata oh ternyata.. sudah ditarik bo! Alasannya? Penjualannya lambat! Reaksi saya? Bengong! Kontrak saya dengan penerbit itu dua tahun. Baru enam bulan sudah ditarik. Lah, kalau berada di gudang bagaimana bisa ada penjualan?            Untungnya (seperti biasa, orang Indonesia punya kegemaran melihat sisi positif sehingga walaupun tertimpa musibah masih bisa berkata ‘untung’) novel remaja kedua saya beredar bersamaan dengan penarikan novel Takoyaki Soulmate. Paling tidak, saya sudah punya gambaran nasib novel saya ini. Berkaca dari pengalaman, saya putar otak bagaimana caranya mempromosikan novel saya itu. Tujuannya cuma satu, bisa membuat orang membeli novel saya sebelum jangka waktu enam bulan berakhir.            Saya menghubungi kenalan saya yang menjadi redaktur di salah satu majalah life-style di Jakarta. Bekerja sama mengadakan kuis. Kemudian menghubungi majalah-majalah remaja lainnya agar novel saya bisa muncul di kolom ‘info buku’. Selain itu, saya juga menghubungi pustakawan yang rajin meresensi dan memiliki follower yang banyak. Dia bersedia mereview dan mengadakan ‘giveaway’ novel saya. Saya juga membuat ‘poster’ dan menyebarkannya di sosial media. Saya bahkan berinisiatif mengadakan acara ‘ngopi bareng’ gratis. Kumpul-kumpul dan ngobrol-ngobrol dengan saya. Saya membuat sendiri posternya. Hanya saja saya minta tolong admin penerbit untuk menyebarkannya di sosial media. Tadinya saya pikir peminatnya akan banyak. Tapi ternyata hanya satu dua yang menanggapi. Itupun hanya mengatakan ‘Insya Allah’. Sebagai muslim, memang begitulah seharusnya. Mengucapkan Insya Allah ketika membuat janji. Tapi kesannya.. hmmm… gitu deh..           

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments