Thoughts, stories and ideas.

Kritik = Mati?

8th December 2012

Ada sebuah pesan yang masuk di inbox saya. Isinya minta tolong saya membaca dan mengomentari naskahnya. Yang pertama terlintas di benak saya adalah: kenapa saya? Rasanya akan lebih tepat kalau permintaan itu ditujukan ke seseorang yang sudah punya ‘nama’ di dunia tulis menulis. Mungkin yang bersangkutan punya pertimbangan tertentu sebelum akhirnya minta tolong kepada saya.            Setelah membaca naskahnya, yang menjadi pemikiran saya selanjutnya adalah bagaimana menyusun komentar saya. Tiba-tiba saja saya teringat ketika saya asistensi kelas penerbitan buku dengan Epri Tsaqib di Sekolah Menulis Online.             Waktu itu asistensi dilakukan via telepon. Ketika saya bertanya komentarnya terhadap naskah yang saya kirimkan lewat email, yang ditanya tidak langsung menjawab. Setelah terdiam beberapa saat, ia berkata: gak jelek. Saat saya minta kritikan atas naskah saya, dengan amat hati-hati beliau berkata: “gak apa-apa nih mba’ kalau saya kritik?” Nah loh.. Tentu saja saya jadi penasaran dibuatnya. Memangnya kenapa kalau beliau mengkritik naskah saya? Dengan hati-hati pula, beliau menjawab, ..ada pepatah yang mengatakan bahwa kritikan hanya akan membuat seorang penulis mati.. Setelah saya yakinkan kalau saya tidak akan ‘mati’ hanya karena kritikannya, barulah ia memberikan komentarnya. Pengalaman itu yang kemudian membuat saya juga jadi berhati-hati dalam berkomentar. Saya tidak mau komentar saya ‘membunuh’ semangat menulis seseorang.            Tidak mudah memang membaca dan menyikapi sebuah komentar atau kritik. Dulu, setiap kali saya posting tulisan di blog belajarmenulis, saya deg-deg-an tidak karuan menunggu tulisan saya dikomentari oleh Mba’ Ari Kinoysan (komentator blog belajarmenulis). Setelah dikomentari, saya sampai meringis-ringis membaca komentarnya. Untungnya sampai ‘sekarang’ saya masih ‘hidup’. Kritik memang pedas. Kritik bukan keripik yang walaupun rasanya pedas tetap enak dijadikan cemilan di waktu luang, dijadikan teman di kala menonton televisi, dimusuhi ketika jarum timbangan bergeser ke kanan. Namun bukan berarti kritik tidak bisa terasa gurih. Syaratnya hanya satu: hati yang lapang.

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments