Thoughts, stories and ideas.

Merasa Kecil di Jumpun Pambelom

30th November 2017

I love places that make you realize how tiny you and your problems are (Anonym)

Masih cerita tentang hari pertama di Palangkaraya. Setelah berwisata di Danau Sebangau (http://erlitapratiwi.com/kipas-kipas-di-danau-sebangau/) dan menguji nyali bertemu anak buaya dan emak buaya yang bersembunyi di suatu tempat di Sungai Koran (http://erlitapratiwi.com/uji-nyali-di-sungai-koran/) kami memutuskan makan siang dengan menu khas Banjar. Tentang kuliner ini akan saya buatkan tulisan tersendiri.

Setelah perut kenyang, perjalanan dilanjutkan menuju Jumpun Pambelom, hutan gambut yang terletak di desa Tumbang Nusa, kecamatan Jabiren Raya, kabupaten Pulang Pisau. Nama kabupatennya agak seram ya...

Dalam bahasa Dayak Ngaju, Jumpun Pambelom artinya Hutan Sumber Kehidupan. Hutan seluas 18 hektare ini dimiliki dan dikelola oleh Pak Januminro. Jadi, Pak Januminro membeli lahan yang terbakar saat kebakaran melanda Kalimantan dan menghijaukannya kembali. Bagi saya pribadi, what he has done is so cool! Keren banget! Saya sampai tidak bisa berkata-kata saat bersalaman dengan Pak Januminro. I feel so small... Rasanya saya belum melakukan sesuatu untuk negeri ini, untuk bumi ini.

alt

Karena Pak Januminro sedang menunggu tamu, kami masuk ke dalam hutan ditemani salah seorang pegawai. Rimbunnya pepohonan menghalangi hujan yang turun.

alt

Kami disuguhi foto-foto kegiatan yang dikoordinir oleh Pak Januminro yang terpajang di sepanjang jembatan kayu. Salah satunya kegiatan pelatihan relawan serbu api untuk mengatasi kebakaran lahan gambut. Senang rasanya melihat foto para remaja yang mengikuti pelatihan. Kalian sungguh keren! Anak muda jaman now yang layak diacungi jempol. Bukan anak muda jaman now yang sibuk selfi bersama kekasih sambil manggil mamah papah!

Pak Janu juga memberikan pelatihan kepada masyarakat sekitar. Semoga dengan semakin banyaknya tenaga terlatih, kebakaran hutan Kalimantan dapat dicegah. Apa hubungannya lahan gambut dengan hutan? Tanah di Kalimantan sebagian besar lahan gambut. Kalau lahan gambutnya terbakar, hutannya terbakar juga.

alt

Kami juga diajak melihat sumur bor yang dibangun setiap jarak 100-150 meter di dalam Jumpun Pambelom. Sumur-sumur ini berguna untuk mengairi lahan gambut saat terjadi kebakaran. Seringkali api terlihat padam padahal sebenarnya api itu masih menyala di dalam tanah. Cara memadamkannya dengan membanjiri lahan gambut sampai titik-titik api di dalam tanah padam.

alt

Tidak heran bila Pak Januminro mendapat penghargaan kalpataru dan sampai diundang ke luar negeri untuk memberi seminar tentang lahan gambut. You are so cool, Pak!

Seperti layaknya hutan, Jumpun Pambelom ini juga dihuni hewan. Tupai, ular, orang utan hanya beberapa di antaranya. Karena kami tidak masuk jauh ke dalam hutan, kami tidak bertemu penghuni hutan. Yang kami temui hanya nyamuk-nyamuk yang ukurannya besar dan gigitannya sakit sekali.

Untungnya saya sudah dipesan oleh Dian untuk membawa minyak kayu putih. Selain untuk dioleskan di bentol bentol akibat gigitan nyamuk, minyak kayu putih ini ampuh untuk mengusir nyamuk. Caranya, cipratkan ke baju atau kerudung. Jadi, kalau mau masuk ke dalam hutan, ganti parfum yang biasa dipakai dengan minyak kayu putih :D

Sayang, saya tidak sempat bertanya-tanya tentang program adopsi pohon. Kata Dian, ia akan ke Jumpun Pambelom akhir Desember. Nanti saya dikabari tentang program adopsi pohon ini. Ada yang mau ikutan mengadopsi pohon?

alt

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments