Thoughts, stories and ideas.

Jadi PENULIS? Enggak mauuu…!

19th March 2015

Tanggal 17 Maret lalu, saya mengisi acara di sebuah sekolah swasta di daerah Modernland, Tangerang. Pesertanya adalah murid-murid kelas lima. Sebagai pembuka, saya memperkenalkan diri saya. Tidak lupa saya sedikit promo novel anak yang saya tulis dan terbit Januari lalu. Selanjutnya, saya mengajukan pertanyaan, “Ada yang mau jadi penulis gak?”           

Dengan kompaknya, mereka menjawab, “Enggak mauuu…!”
“Ya sudah deh, kalau enggak ada yang mau.”  Saya mengomentari dengan pasrah.           

Setelah menonton video singkat yang sudah saya siapkan, saya bertanya kenapa tidak mau menjadi penulis. Alasannya beragam.
A: Enggak bisa nulis
B: Menulis itu susah
C: Memangnya kalau jadi penulis tuh ngapain aja sih?           

Mungkin di benak mereka (dan juga di benak banyak orang), “menjadi penulis” bukan sesuatu yang dicita-citakan. Saya juga tidak bercita-cita menjadi penulis. Cita-cita saya dulu, jadi wanita karir. Kerja di kantor di bilangan Sudirman – Thamrin. Punya rumah dan kendaraan pribadi dan seterusnya… dan seterusnya…. Jadi, saya cuma bisa meringis saat mendengar jawaban anak-anak itu.           

Saat pembicaraan menyinggung soal EYD, mereka menggelengkan kepala. Saya sempat heran, masa’ sih mereka tidak tahu EYD? Setelah saya berikan beberapa contoh, salah seorang nyeletuk, “Oh, itu sih pelajaran Bahasa Indonesia.” Hahaha…

Walaupun (ngakunya) tidak ingin jadi penulis, mereka terlihat antusias saat saya minta membuat satu paragrap berdasarkan gambar yang saya tampilkan di slide. Salah seorang dari mereka bertanya, “Bu, enggak bikin enggak apa-apa kan? Saya enggak bisa nulis.”
Saya menganggukkan kepala.
Lucunya, saat dia melihat teman-temannya mengumpulkan tulisan, dia buru-buru menulis sambil berteriak, “Bu, tungguin ya! Saya lagi bikin, nih.” … dan saya cuma mesem-mesem.

Selagi saya membaca paragrap yang mereka buat, Mas Widi dari Gramedia mengambil alih acara. Dari sekian banyak tulisan, ada tiga yang menurut saya bagus dan berbeda. Yang satu, bercerita tentang pembunuhan. Yang satu lagi, tentang ‘sahabat hati’. Yang terakhir tentang pertemuan. Bahkan saya sendiri tidak terfikir untuk membuat tulisan pembunuhan!

Kejutan lainnya, tulisan terbaik dari segi isi cerita dan kerunutan dibuat oleh seorang anak laki-laki. Dia terlihat pe-de dengan tulisannya. Saat saya membacakannya dan teman-temannya meledeknya, ia tersenyum dengan tangan terlipat di dada. Sama sekali tidak tersipu-sipu seperti dua teman lainnya yang tulisannya saya bacakan. Well, menjadi anak-anak memang menyenangkan!

Every child is a different kind of flower, and all together makes this world a beautiful garden.

Senang sekali rasanya acara itu berjalan lancar. Anak-anak itu terlihat antusias. Kami bercanda, tertawa dan berfoto bersama sebelum acara usai. Mereka tidak tahu saya sampai tidak bisa tidur malam sebelumnya. Soal demam panggung ini akan saya buat tulisan tersendiri. Last but not least, to all students of fifth grade SD BPK Penabur Moderland, thank you so much :)

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments