Thoughts, stories and ideas.

It's Not About Takoyaki

16th April 2013

Mendengar kata ‘Takoyaki’ yang langsung terbayang adalah cemilan khas negara Jepang berbentuk bulat. Disajikan dengan saus Tonkatsu, taburan nori bubuk dan Katsuobushi alias abon tuna panggang. Isinya bermacam-macam. Ada gurita, cumi, udang. Ada pula yang berisi potongan keju. Rasanya… nyam nyam nyam..            Namun tulisan ini bukan tentang cara membuat Takoyaki. Takoyaki di sini adalah ‘menu utama’ dalam novel saya yang berjudul Takoyaki Soulmate. Rencananya novel ini akan beredar akhir April atau awal Mei (Mudah-mudahan tidak ada penundaan)            Mengapa saya memilih Takoyaki? Iseng aja sih, hehehe… Apakah karena saya penggila Takoyaki? Hmmm.. rasanya tidak juga. Saya lebih suka makan pempek Palembang dengan kuah cukanya yang pedas asam menggigit lidah dan membuat mata merem melek. Mungkin karena pengaruh trend? Bisa jadi begitu. Yang jelas, bagi saya pribadi, novel ini sangat istimewa dan ajaib… nah loh..!             Yang pertama, proses penulisannya sangat cepat. Hanya dalam waktu dua minggu! Dua minggu untuk 120 halaman A4 buat saya adalah rekor!             Kedua, Takoyaki Soulmate dibuat karena iseng. Ceritanya, saya dan adik saya ‘ngobrol’ lewat bbm. Obrolan ngalor ngidul yang lebih mirip khayalan. Sambil lalu, adik saya menyuruh saya membuat novel.  Iseng-iseng saya ‘mencatat’ poin-poin penting. Sambil tertawa-tawa saya katakan kapan-kapan obrolan kami akan saya jadikan novel.            Setelah obrolan itu, saya mendaftar kelas ‘editing’ pelatihan menulis yang diselenggarakan secara online. Materi hari terakhir adalah bedah karya. Masing-masing peserta akan mengirim karyanya kemudian akan dibedah oleh mentor pelatihan yang sehari-hari berprofesi sebagai editor di salah satu penerbit besar. Karya boleh berupa cerpen, essai, ataupun novel. Khusus untuk novel, naskah yang dimasukkan adalah bab satu yang maksimal terdiri dari 10 halaman.            Awalnya saya berencana tidak akan memasukkan naskah. Saya sedang tidak mood menulis. Dan kebetulan saya sedang tidak memiliki stok tulisan. Sempat terfikir untuk mengirim naskah tulisan cerpen anak-anak. Tapi.. masa’ cerpen anak-anak sih? Gak keren ah, hehehe.. Kalau saya tidak mengirim naskah kok rasanya sayang ya… kapan lagi saya bisa berinteraksi dengan editor penerbit besar.            Akhirnya dengan terburu-buru saya membuat tulisan sebanyak sepuluh halaman berdasarkan catatan iseng-iseng saya. Sempat ragu saat hendak mengirim naskah itu. Maklum ini kali pertama saya menulis novel remaja. Rasanya kok tulisan saya garing ya? Tapi akhirnya saya kirim juga naskah itu. Paling-paling diketawa-in, begitu kata saya dalam hati.            Benar dugaan saya. Ketika sesi bedah karya, yang pertama ditanyakan oleh sang mentor adalah: naskah Takoyaki Soulmate punya siapa ya? Mati gue! Chat dengan saya ya Mbak! Nah loh… Saya sudah pasrah akan mendapat banyak koreksi. Ternyata mentornya malah bertanya: Ini novel? Rencananya berapa bab? Ceritanya tentang apa? Hiyaaaaa…. Mana saya tau ada berapa bab dan ceritanya tentang apa. Saya kan cuma iseng Mbaaakkkk…. :’( Kalimat berikutnya malah lebih ajaib lagi. Bisa gak dalam seminggu ini nambah lima puluh halaman? Gubraaakkk… Bagaimana bisa nambah halaman kalau saya sendiri tidak tahu mau dibawa kemana naskahnya? *edisi lebay            Begitu kelas selesai, saya hanya bisa bengong. Saya tidak ada bayangan sama sekali. Apa saya menyerah saja ya? Tapi kok rasanya gak enak juga.. belum apa-apa sudah menyerah..             Esok harinya saya mencak-mencak ke adik saya. Gara-gara keisengan dia, saya harus menyelesaikan lima puluh halaman dalam seminggu. Pokoknya saya tidak mau tahu. Dia harus bertanggung jawab! Apa coba.. hehehe..             Sabtu sore, kami sepakat bertemu. Nongkrong berdua di kedai Takoyaki. Dia memamah biak, saya mencoret-coret kertas. Eh, nggak ding, saya juga ikutan memamah biak, hehe.. Seporsi Takoyaki dan Tuna roll ditambah dua gelas Oca dingin menemani obrolan kami. At the end, saya berhasil menyelesaikan 120 halaman. Naskah itu kemudian disetujui untuk diterbitkan nyaris tanpa koreksi. Ajaib kan?             This novel is not about Takoyaki. It’s about dreams and love.. Gak percaya? Baca aja sendiri. Rugi loh kalau gak punya novel ini.. :D

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments