Thoughts, stories and ideas.

Gara-gara Pasir

29th December 2017

Selama karir penerbangan saya — maksudnya naik pesawat terbang — baru kali ini mengalami kejadian disuruh bongkar koper di bandara.

Ceritanya, saat saya ke Pantai Melasti, Ungasan, saya lihat pasirnya berwarna kemerahan dan butirannya seperti telur ikan. Mirip pasir di Pantai Kuta Lombok.

alt

Buru-buru saya mencari botol bekas air kemasan. Saya masukkan pasirnya ke dalam botol. Satu botol untuk yang butirannya besar. Satu lagi untuk pasir yang halus kemerahan.

Saat packing sebelum pulang, botol-botol itu saya letakkan di antara tumpukan baju-baju kotor di koper paling besar berwarna ungu. Kalaupun botolnya pecah karena kopernya terbanting atau tertumpuk koper lain, ya sudahlah, paling baju kotornya akan semakin kotor.

Di bandara Ngurah Rai, Bali, satu persatu koper melewati alat pemindai. Tiba-tiba petugas memisahkan koper ungu dan menyuruh Pak Suami membuka koper itu.

Saya yang bertanggung jawab urusan packing, mendapat tatapan mesra Pak Suami. Eh, enggak mesra ding...

“Ada apa di dalam koper?” tanya Pak Suami.

Tiba-tiba saya ingat. Botol-botol pasir itu!

Saya mengangkat tumpukan baju dan mengeluarkan dua botol plastik berisi pasir. Untung tumpukan yang dibongkar itu isinya baju-baju cantik. Coba kalau tumpukan daleman... wedeeewww...

Pak Petugas membuka tutup botol dan menciumnya.

“Nanti dimasukkan bagasi. Gak boleh di kabin,” katanya.

Saya mengiyakan sambil buru-buru merapikan koper dan menguncinya. Koper sebesar itu gak mungkin juga dibawa ke kabin.

Saya menarik koper sambil cengar cengir. Sementara kakak etha ketawa ketiwi. Gara-gara pasir, kejadian deh disuruh bongkar koper. (Mendadak saya jadi inget film Locked Up Abroad, penyelundup narkoba yang tertangkap kemudian dipenjara di negeri asing)

Tadinya sebelum berangkat ke Bali, saya malah ingin ke Pantai Kusamba. Saya mau ambil pasirnya yang berwarna hitam. Tahun 2015, saya ke sana tapi lupa ngambil pasir. Sayang, kunjungan kali ini ke Bali, saya tidak sempat mampir ke Kusamba.

Tahun 2014, saya ke Lombok, pulangnya membawa pasir juga di botol plastik. Lebih banyak malah, tiga botol. Satu botol isinya pasir merica, satu pasir tepung dan satu lagi pasir dari pantai pink. Tapi gak disuruh bongkar koper, tuh...!

Kenapa saya suka mengumpulkan pasir? Ya udah sih, biarin aja....

alt

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments