Thoughts, stories and ideas.

Gado-gado Femina - Berburu Like!

30th January 2017

Akhir Desember lalu, tulisan saya dimuat di rubrik Gado-gado majalah Femina no. 51/XLIV 24-30 Desember 2016. Pengennya sih langsung dijadikan postingan blog. Berhubung banyak kesibukan, baru sempat sekarang. Better late than never. Iya kan? Iya dong....

Artikel berjudul 'Berburu Like!' itu bercerita tentang 'perjuangan' saya demi bisa mengunggah foto jalan-jalan yang menuai banyak komentar dan like. Saat mengalaminya, saya dongkol bin sebal. Tapi setelah dituliskan ternyata lucu juga hahaha....

alt

Oh iya, artikel ini saya ketik di ponsel pintar di pojokan resto cepat saji yang buka 24 jam. Ceritanya, setelah mengantar anak-anak sekolah, saya malas pulang karena lalu lintas macet parah. Sambil menunggu kemacetan terurai, saya memutuskan mojok sambil mengetik.

Every clouds has its silver lining - Setiap awan gelap memiliki garis perak.

Nah, tinggal pintar-pintarnya kita menemukan garis perak itu. Daripada menggerutu tentang kemacetan, lebih baik mengetik dan dimuat di majalah. Iya kan? Iya dong 😀Selamat membaca yaaa....

GADO-GADO
BERBURU ‘LIKE’
oleh: Erlita Pratiwi

Punya akun media sosial itu paling senang kalau kita mengunggah sesuatu kemudian mendapat banyak ‘like’ dan komentar. Unggahan makanan atau jalan-jalan termasuk ke dalam kategori postingan yang disukai dan banyak mendapat banyak komentar. Makanya, saya bela-belain belajar dasar-dasar fotografi, supaya bisa mengunggah foto yang menarik dan mendapat banyak ‘like’.

Sejak saat itu saya jadi rajin memotret. Termasuk saat harus menemani suami ke Kuningan, kota yang berjarak sekitar 45 menit berkendara dari kota Cirebon. Jadi, saat suami sibuk dengan urusannya, saya bisa jalan-jalan dan foto-foto. Pilihan saya jatuh ke sebuah desa wisata. Dari foto-foto yang ada di instagram kelihatannya bagus. Ada air terjun dan juga situs purbakala. Sudah terbayang akan banyak yang mengomentari foto yang saya unggah. Hmm...

Pak sopir dengan yakin menjalankan mobil melewati jalan beraspal mulus membelah hutan karet. Nyaris tidak ada kendaraan lain yang berpapasan dengan kami. Saya mulai was-was apalagi saat melihat tidak ada tanda-tanda perkampungan. Hanya ada pohon karet. sinyal telepon selular lebih sering menghilang. Aduh... Apakah kami tersesat? Lega rasanya saat melihat batu bertuliskan “Selamat Datang”.

Untuk bisa ke lokasi air terjun dan situs purbakala, pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar Rp. 20.000. Menurut petugas, pengunjung masih harus berjalan kaki kira-kira 200 meter. Tidak terlau jauh, pikir saya. Pak sopir ikut menemani. Lumayan, paling tidak, ada yang memotret saya di air terjun.

Ternyata, oh ternyata... setelah berjalan kaki, saya masih harus menaiki anak tangga dengan kemiringan yang cukup terjal. Ditambah lagi jarak antar anak tangga tidak sama. Ampun, deh!

Mendekati puncak anak tangga, saya merasa heran, kenapa tidak terdengar suara air terjun ya? Logikanya, kalau di atas sana ada air terjun, saya sudah bisa mendengar suaranya karena barisan anak tangga yang saya naiki sudah mendekati akhir.

Setelah mendaki anak tangga yang seolah tak kunjung habis, akhirnya saya tiba di semacam pelataran dengan kolam yang nyaris kering dan tebing menjulang. Lho, di mana air terjunnya?

Ternyata oh ternyata, air terjunnya kering! Entah apa yang terjadi dengan sungai di atas sana sehingga tidak lagi mengalirkan air. Gagal sudah rencana saya berpose cantik dengan latar belakang air terjun.
Saya kemudian mencari-cari letak situs purbakala. Mata saya kemudian menangkap papan petunjuk. Apa?! Harus menaiki anak tangga lagi? Oh, no!

Terlanjur sudah tiba di sini, saya memotret kolam dan tebing yang kering. Tentu saja foto ini tidak akan saya unggah. Setelah selesai memotret, saya bergegas menuruni deretan anak tangga. Entah kenapa suasana di sekitar air terjun yang kering itu terasa mistis. Hiii...

Sambil menuruni anak tangga, saya disuguhi pemandangan hijaunya pucuk-pucuk pepohonan berdampingan dengan birunya langit. Saya bergegas memotretnya. Ternyata hasilnya cantik sekali.

Seperti yang sudah saya duga, ada banyak yang me-‘like’ dan mengomentari foto tersebut. Tentu saja mereka tak perlu tahu kisah air terjun yang kering he... he... he...

Lain kali ini saya ke Kuningan, saya mencari lokasi air terjun yang mudah dijangkau. Air terjun yang satu itu memang mudah dicapai tapiii... tingginya hanya 3 meter! Beda tipis dengan pancuran yang ada di taman! Ha... ha... ha... Saya pun batal mengunggah fotonya. Berpose di depan air terjun yang tingganya hanya satu setengah meter di atas kepala saya kemudian mengunggahnya sungguh bukan ide yang bagus.

Saat menghabiskan libur lebaran di kawasan Gunung Salak, saya belum kapok berburu air terjun. Air terjun pertama, sesuai dengan harapan. Indah! Saya tidak lupa foto-foto kemudian mengunggahnya di media sosial. Bukan hanya mendapat banyak ‘like’, beberapa menanyakan detail lokasi. Wah, senangnya!

Air terjun kedua ada embel embel goa di namanya. Saya sempat ragu melihat kondisi jalan menuju curug yang mendaki dan menurun curam. Namun keinginan mengunggah foto jalan-jalan mengalahkan keraguan. Setelah perjalanan yang membuat kaki pegal, napas ngos-ngosan, akhirnya saya tiba di lokasi curug. Curugnya tidak terlalu tinggi tapi masih lumayan dibandingkan dengan curug di Kuningan. Kolamnya sempit. Saya celingukan mencari-cari goa ternyata goanya kecil! Saya yang nyaris kehabisan napas, nyaris pula lupa memotret! Hanya ada satu dua foto. Haduh...! Di-php air terjun itu sakitnya....

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments