Thoughts, stories and ideas.

Di Singapura, Saya Jadi Kangen Indonesia

6th May 2018

Rasanya, banyak orang akan setuju bahwa jalan-jalan di Singapura itu mengasyikkan. Sistem transportasi tertata dengan baik, tingkat disiplin yang tinggi, kota yang bersih membuat wisatawan merasa nyaman.

Namun ada beberapa hal yang ada di Singapura yang justru membuat saya kangen Indonesia.

1.Sprayer (semprotan air untuk membersihkanndiri setelah buang air).
Nyaris seluruh toilet di Singapura tidak ada sprayer. Hanya ada tissue.
Di Bandara Changi, toilet dengan sprayer ada di bilik toilet jongkok. Letaknya paling ujung atau nomor dua dari ujung. Bagi saya, tak masalah bentuk toiletnya jongkok yang penting ada air. Di pintu toilet ada peringatan untuk berhati-hati dengan lantai yang berbeda ketinggian.

alt

Selama di Singapura, kemana-mana saya membawa botol berisi air untuk bersih bersih setelah buang air.

2.Air kemasan.
Di Singapura, harga air kemasan terhitung mahal. Di Guardian, saya membeli air kemasan seharga Sin$ 1.5 (sekira Rp. 15.800) untuk dua botol. Kalau beli di minimarket di Indonesia, minimal saya bisa dapat 4 atau 5 botol.

3.Ojek.
Jangankan ojek, saya jarang sekali melihat sepeda motor lalu lalang di jalanan. Sekalinya ada, sepeda motor milik pribadi yang ukurannya besar.
Di Singapura, transportasi umum yang banyak digunakan adalah MRT. Untuk menuju stasiun MRT biasanya jalan kaki atau naik bis umum.

4.Jalan kaki santai.
Di Singapura, jalan kaki jadi hal yang lumrah. Jalan kaki ke stasiun MRT, naik MRT kemudian jalan kaki lagi ke tempat tujuan. Bisa sih naik taksi, tapi mahal. Mungkin karena sudah biasa, orang sana berjalan kaki dengan cepat.
Sementara di Indonesia, paling sering jalan kaki (santai) di mall, saat Car Free Day atau jalan kaki cepat saat treadmil di gym.

5.Menyeberang jalan di mana saja.
Di sini, kalau mau menyeberang jalan ya tinggal nyeberang saja. Jembatan penyeberangan kadang dianggurin. Di Singapura, kalau mau menyeberang harus di zebra cross dan menunggu lampu tanda boleh menyeberang menyala. Disiplin memang... tapi kan jauh... heuheuheu...

Di Indonesia, hal ini sudah diberlakukan di ruas jalan protokol. Semoga ke depannya bisa merembet ke jalan-jalan lainnya supaya kita semakin disiplin.

alt

Artikel ini telah ditayangkan di plukme! tanggal 3 Mei 2018

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments