Thoughts, stories and ideas.

Di Balik Cerita Komik Chevy

4th December 2016

Tawaran membuat komik ini datang tepat saat saya merasa 'gimana gitu' karena naskah saya tidak lolos seleksi room to read. Jadi, saat teman-teman penulis anak membuat status fb bahwa mereka ditelepon panitia karena naskah mereka lolos, saya ditelepon Mbak Editor untuk membuat naskah komik.
Ada kekhawatiran, kira-kira bisa tidak ya, saya membuat komik. Tapi, kita tidak akan tahu sampai kita mencobanya, iya kan? Iya dong....

Saat meeting pertama, saya mendapat info bahwa komik ini berisi kampanye keselamatan sebagai bagian program CSR salah satu perusahaan otomotif. Nantinya buku ini akan dibagikan ke sekolah-sekolah.

Kenapa dibuat dalam bentuk komik? Karena anak-anak suka komik. Pihak-pihak yang terlibat berharap, anak-anak akan lebih mudah diajari tentang keselamatan. Kalau orang tuanya yang diajari mungkin sudah sulit menerima.

Agar tidak membosankan, kampanye keselamatan itu dibalut dengan cerita misteri ringan. Semacam cerita dengan teka-teki di dalamnya. Sambil tertawa-tawa, saya dan para editor saling bertanya, hayooo cerita apa hayooo...

Akhirnya disepakati bahwa kami akan membuat cerita tentang pajangan kristal yang hilang.

alt

Cerita ini terinspirasi dari pengalaman liburan Idul Fitri di kaki Gunung Salak. Sejak menulis novel anak misteri, setiap kali pergi ke tempat baru, saya suka bertanya-tanya, kira-kira ada misteri apa yang bisa ditulis. Lebay kan? Lebay dong....

Cerita liburan di kaki Gunung Salak bisa di simak di:
http://erlitapratiwi.com/menikmati-aura-klasik-di-kaki-gunung-salak/

Masalah cerita sudah beres. Selanjutnya membuat outline. Mulai dari tema, tokoh dan jalan cerita. Karena jumlah halaman sangat terbatas, cerita harus padat dan bertempo cepat.

Saat meeting bersama dengan pihak perusahaan otomotif, Mbak Editor mengubah cerita yang saya buat menjadi berbentuk poin-poin agar lebih mudah dimengerti oleh pihak perusahaan yang diwakili Mbak PR Manager.

alt

Setelah semuanya disetujui, kami membuat time line dan saya hanya diberi waktu 3 hari menyelesaikan naskah.

Kesulitan terbesar saya adalah mengubah detail cerita ke dalam keterangan gambar dan hanya menulis dialog singkat. Maklumlah, selama ini saya terbiasa menulis novel.

Saya menghubungi Mas Agus yang akan mengilustrasi. Mas Agus-lah yang memberikan panduan membuat naskah komik. Terima kasih ya, Mas!

Alhamdulillah, mengerjakan komik ini terasa ringan. Mungkin karena saya hanya tinggal menambahkan sedikit bumbu ke dalam pengalaman saya (itu sebabnya saat menulis novel, saya merasa perlu datang ke setting tempat yang akan saya tulis).

Pada suatu sore, bukti cetak buku komik pertama saya tiba dengan selamat. Selalu ada rasa haru setiap kali saya melihat penampakan buku yang baru selesai cetak.

alt

Buku ini menjadi penutup tahun 2016. Semoga masih ada buku-buku lainnya yang terbit di tahun depan dan semoga Allah masih berkenan memudahkan urusan saya. Karena, bila sampai sekarang saya masih bisa berkarya, bukan karena saya kuat dan hebat tetapi karena Allah-lah yang memudahkannya bagi saya.

BSD, 4 Desember 2016

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments