Thoughts, stories and ideas.

Delapan jam di Yogya, bisa ke mana saja?

19th December 2015

Selalu ada tempat menarik di Yogya untuk dikunjungi. Bahkan dalam waktu terbatas yang hanya 8 jam dihitung dari saat kami mendarat di Bandara Adi Sucipto sampai kembali cek-in di bandara yang sama. Ke mana saja dalam waktu 8 jam itu?

Dengan kondisi bandara yang hanya memiliki 7 tempat parkir pesawat tidak heran bila terjadi antrean pesawat yang akan lepas landas. Ditambah lagi, penerbangan dari dan ke Yogya cukup padat. Pesawa yang kami tumpangi harus berputar-putar menunggu hampir setengah jam untuk menunggu giliran mendarat dan mendapat tempat parkir.
alt Merapi menjadi tempat pertama yang kami datangi. Sebenarnya sopir yang menjemput kami merekomendasikan Goa Pindul. Sayang, kami tidak membawa celana ganti sehingga usulan itu terpaksa kami tolak.

Perlu waktu antara 45 menit – 1 jam untuk sampai ke lereng Merapi tergantung kondisi lalu lintas. Ada 3 jenis paket tur Merapi yang ditawarkan, short, medium, long. Keterbatasan waktu membuat kami memilih paket ‘short’ seharga Rp. 300.000 dengan lama tur kurang lebih 1 jam.

Ada tiga tempat yang akan dikunjungi yaitu Museum Mini, Batu Alien dan Bungker. Di sepanjang perjalanan ada beberapa spot menarik untuk diabadikan dengan kamera. Sekedar tips, pilihlah mobil jeep warna merah agar terlihat bagus saat difoto. Pak Maryono, sopir jeep yang kami tumpangi bahkan piawai menggunakan Go-pro!

Museum Mini sebenarnya adalah rumah milik salah seorang warga. Atapnya hilang tersapu awan panas. Yang tersisa hanya dinding-dindingnya saja. Pasca letusan, pemilik rumah membangun atap sederhana. Beberapa benda dipajang di dalam ruangan dan di halaman rumah agar para pengunjung bisa melihat betapa dahsyatnya letusan Merapi. Ada jam dinding yang berhenti berdetak saat letusan terjadi, sendok yang melengkung terkena awan panas, botol beling yang meleleh. Ada pula kerangka sapi dan rangka sepeda motor.
alt

Memasuki ruang demi ruang sambil mendengarkan cerita Pak Sopir membuat kami terlempar ke saat-saat letusan itu terjadi. Di dinding salah satu ruangan terdapat tulisan ‘Merapi Tak Pernah Ingkar Janji’. Maksudnya, bila status Merapi meningkat, statusnya tidak akan turun. Pasti terjadi letusan.

Di halaman samping terdapat batu bertuliskan pesan dalam bahasa Jawa. Sementara di halaman depan terdapat tempat menjual cenderamata.

Tempat kedua yang kami datangi adalah Batu Alien, batu besar menyerupai bagian kepala manusia.
alt

Tidak jauh dari tempat parkir ada spot menarik untuk berfoto, dengan latar belakang Gunung Merapi dan aliran Kali Gendol. Hanya saja kita harus berhati-hati agar tidak jatuh ke dalam jurang.
alt

Bungker menjadi tempat terakhir dalam paket tur singkat Merapi. Di antara ketiganya, tempat yang paling menarik adalah Kali Gendol yang dilewati dalam perjalanan menuju bungker. Kali Gendol adalah sungai yang menjadi tempat aliran lahar dingin. Batu-batu yang memenuhi Kali Gendol kini ditambang, dipecahkan dan dijual oleh penduduk.

Walaupun telah berlalu sekian tahun, di beberapa tempat batu-batu itu masih mengeluarkan asap tipis dan terasa panas. Berfoto di Kali Gendol dengan latar belakang Gunung Merapi dan di atas jeep merah, it's so amazing!
alt

Dari Merapi, tujuan selanjutnya adalah tempat resepsi di Kampus Universitas Negeri Yogyakarta. Di perjalanan, kami sempat mampir ke Mirota di kawasan Kaliurang untuk berbelanja dan mampir ke salah satu warung, membeli jadah – sejenis penganan terbuat dari ketan yang ditumbuk mirip uli.

Selesai menghadiri resepsi, tujuan berikutnya adalah kawasan Malioboro untuk membeli Ampyang Kepyar yang sedang hits lewat promo gencarnya di dunia maya. Ada ampyang kacang tanah, ada pula kacang mede. Yang enak tentu saja kacang mede, hehe…

Cuaca Yogya yang cukup panas siang itu membuat kami memutuskan mampir ke Jogja City Mall untuk menikmati segelas racikan kopi dingin. Mall bergaya eropa dengan pilar-pilar besar dan kokoh di bagian depan. Pelatarannya yang luas dengan beberapa undakan anak tangga cocok untuk foto-foto. Beberapa pengunjung duduk-duduk di anak tangga sambil mengobrol.

Setelah merasa segar, kami melanjutkan perjalanan. Gudeg Yu Djum menjadi tempat terakhir yang kami datangi sebelum menuju Bandara Adi Sucipto. Walaupun (katanya) Gudeg Yu Djum ini tidak terlalu manis, ternyata di lidah saya tetap saja terasa manis sekali. Sepaket oleh-oleh berisi gudeg, sambal, setengah ekor ayam kampung, lima butir telor bacem seharga Rp. 125.000 menjadi pelengkap buah tangan.
alt

Hanya 8 jam kami berada di Yogya. Dalam hitungan hari ataupun jam, Yogya tetap dapat dinikmati dan meninggalkan kesan mendalam. Mengutip kata-kata di majalah,

..and at the end of the day your feet should be dirty
your hair messy
and your eyes sparkling

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments