Thoughts, stories and ideas.

Dari Novel ke Film (bag. 3)

26th April 2017

Pertanyaan-pertanyaan

Walaupun senang, proses pembuatan film ini membuat saya deg-deg-an. Banyak pertanyaan tiba-tiba muncul di kepala saya tanpa diundang.

Bagaimana kalau reaksi penonton tidak seperti yang diharapkan?
Bagaimana kalau saya di-bully habis-habisan?
Bagaimana kalau kami dikecam sana sini?

Bukan berarti saya meragukan kemampuan tim yang terlibat. Mereka orang-orang hebat dengan kemampuan luar biasa yang sudah kaya pengalaman dan jatuh bangun di dunia perfilman (issshhh alangkah panjangnya kalimat saya). 

alt

Tapi... saya kan perempuan biasa yang sulit untuk tidak deg-deg-an.

Percaya gue yaa... Gue mau racik skenario lu jadi cantik di film.

Itu kata-kata Nino ke saya. Dan saya cuma bisa berdoa semoga hasilnya seperti yang diharapkan.

Selain pertanyaan-pertanyaan di atas. Muncul juga pertanyaan-pertanyaan lain yang ditujukan ke saya. 

  1. Butuh pemain pendamping gak? Kali aja anak gue bisa ikutan.
  2. Butuh pemeran emak-emak gak? Gue bisa kok.
  3. Bisa gak kita numpang lewat? Gak apa-apa deh jadi figuran.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, silakan hubungi bagian casting yaaa...

Ada satu pertanyaan jahil yang (herannya) beberapa kali ditanyakan kepada saya.

Kok nama produser/sutradaranya sama dengan anakmu (saya)?

Ya kali nama Nino cuma ada satu. Plis deh...

Ceritanya begini, sebenarnya nama anak bungsu saya Akhdan Lathif Azizan. Saat tahu calon adiknya laki-laki, si kakak berkata: kalau perempuan kan Nina bobo, karena ini laki-laki jadinya Nino bobo. Nanti siapapun nama lengkapnya, panggilannya harus Nino. Dan Akhdan pun dipanggil Nino. 

Begitu ceritanya. Sudah jelas kan? Sudah dong....

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments