Thoughts, stories and ideas.

Dari Novel ke Film (Bag. 2)

24th April 2017

Dari awal saya menegaskan bahwa saya tidak keberatan novel saya diangkat ke layar lebar dengan syarat tidak keluar dari koridor petualangan anak dan ada pengetahuan yang didapat setelah selesai menonton film.

Issshhh gaya banget saya ini heuheuheu...

Sebenarnya, saya bukan ingin gaya-gayaan. Kalau filmnya melenceng jauh dari bukunya, saya khawatir orang-orang akan mencap novel misteri lainnya yang saya tulis kurang lebih seperti yang di film. Lebih khawatir lagi kalau seri misteri karya penulis lain ikut terseret-seret dan dianggap jelek. Lebay ya? Habis gimana dong, medsos itu kejam! Terutama akun lambe lambe itu.... 

Dalam pertemuan antara produser, sutradara, penulis, editor dan penerbit, Mba Chris yang mewakili penerbit KPG minta saya dilibatkan dalam pembuatan skenario. Minimal timm skenario berkomunikasi dengan penulis.

Nino sendiri mengatakan dia akan sangat senang bila saya mau terlibat. 

Klop kan?

Akhirnya saya masuk ke dalam tim skenario. 

Saya sadar betul sebuah film melibatkan banyak hal dan banyak kepentingan.  Untuk mengakomodasinya, dibuatlah beberapa perubahan. Selama tidak keluar jalur dan disertai alasan logis, saya rasa saya bisa berkompromi dengan perubahan-perubahan yang dibuat. Lagipula, perubahan-perubahan itu sepengetahuan saya.

Apa saja yang berubah?
1. Tokoh Utama.
2. Setting.
3. Plot.
4. Jumlah pemain.

Seberapa banyak perubahannya? Apa alasannya? Penjelasannya bisa dibaca di buku. Saya sedang menyiapkan naskah bukunya. Penasaran? Nanti beli bukunya saat premiere, ya! 

Oh iya, saya mengawali karir menulis (ceileh kariiir ) dengan menulis skenario. Honor pertama menulis saya ya dari skenario itu.

Walaupun demikian, tetap saja saya deg-deg-an setengah mati. Terakhir kali saya menulis skenario itu tahun 2008 - awal 2009. Sudah lama sekali. Itu pun skenario acara tv bukan film layar lebar. 

Saya berpartner dengan Wurry Parluten dalam pembuatan ‘treatment’. Treatment atau sinplot adalah skenario tanpa percakapan.

alt

Saya dan Wurry pernah menulis skenario untuk program yang sama. Semacam reuni lah kira-kira... heuheuheu...

Pokoknya kami bertekad, benang merah novel Misteri Pantai Mutiara harus bisa dipindahkan ke dalam skenario dengan semua perubahan-perubahan yang dibuat.

Pusing? Yaiyalah... Ribet? Pastinya....

Tapi kayaknya lebih pusing Wurry dibanding saya, hahaha....

Karena sesuatu hal, Wurry tidak bisa terlibat dalam pembuatan Skenario. Akhirnya saya dan Nino yang menyelesaikan skenario.

Seperti yang dikatakan Mba Chris dari KPG sebelum pertemuan kami berakhir, bola ada di tangan saya. Saya berusaha memainkan bola dengan cantik. Padahal, saya tuh enggak bisa main bola. Boro-boro main, nonton bola aja enggak suka! Ciyusan!

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments