Thoughts, stories and ideas.

Dari Novel ke Film (Bag. 1)

24th April 2017

Sebuah Cerita

Ketika saya menulis naskah novel anak 'Misteri Pantai Mutiara' saya hanya berharap naskah itu bisa diterbitkan. Novel itu saya tulis saat saya merasa tidak bisa lagi menulis. Itu juga yang menjadi alasan kenapa saya beralih genre dari novel remaja ke novel anak misteri/petualangan.

Cerita huru hara dan drama di balik proses menulis novel Misteri Pantai Mutiara bisa dibaca di:

http://erlitapratiwi.com/misteripantaimutiarabehindthe_scene/

Saya sedang mempersiapkan naskah novel anak misteri yang ke-empat ketika Nino - seorang teman lama - menghubungi saya dan menanyakan novel anak misteri karya saya yang sudah diterbitkan.

Oh iya, saya dan Nino sudah lama saling kenal. Dulu, kami sama-sama menerbitkan buku di sebuah penerbit. Nino menerbitkan buku forografi. Saya menerbitkan buku dongeng. Kemudian kami sempat terlibat pembuatan skenario di salah satu televisi swasta.

Setelah itu, kami sibuk dengan dunia masing-masing. Nino sibuk dengan foto dan film dokumenter. Saya sibuk antar jemput anak dan menulis buku.

Begitu cerita perkenalan saya dan Nino. Sudah jelas kan? Jangan nanya nanya lagi ya! Mosok saya harus bikin komperensi pers sih... heuheuheu...

Lewat wa, Nino memberitahu bahwa dia berencana membuat film petualangan anak-anak. 

Tanggapan saya? You must be kidding me! Di mata saya, Nino itu suka bercanda. Jadi, saya santai saja.

Beberapa kali Nino menghubungi saya lewat wa membicarakan rencana-rencana film-nya, cerita tentang pemeran utama, rencana meeting dengan produser untuk membicarakan budget, timeline produksi dan banyak hal lainnya. 

.. dan saya tersadar. Loh, ini beneran mau bikin film? 

Karena yang diinginkan itu petualangan di daerah pantai, yang cocok ya Misteri Pantai Mutiara. Saya kemudian mengirim novel Misteri Pantai Mutiara untuk dibaca dan dipelajari Nino. 

alt

Saya kemudian mengontak Mba Dikha, editor buku Misteri Pantai Mutiara. Kalau novel saya mau diadaptasi ke film layar lebar, saya harus bagaimana? 

Mba Dikha kemudian menghubungi Mba Chris (KPG) dan Mas Pax, menanyakan tentang mekanisme buku yang difilmkan karena kami berdua tidak ada yang tahu.

Pada waktu yang sudah disepakati, saya, Mba Dikha dan Mba Chris bertemu dengan sutradara dan produser. Mba Chris berbaik hati menjembatani saya dan pihak film. Jadi selama pertemuan, Mba Chris ini yang banyak bicara.
Thank you sooo much Mba Chris! kiss n hug

alt

Ternyata, di film ini, Nino bertindak sebagai produser merangkap sutradara. Issshhh... keren euy! Sementara saya masih ngopi di kopitiam, dia surah melompat lebih tinggi! Eh, perumpamaannya enggak pas ya? Biarin aja, deh.

Rencananya, shooting film akan dilaksanakan pada bulan Juli dan Desember bertepatan dengan libur sekolah. Alasannya, pemeran utamanya, Almeida Nayara (Naya Slime) kan masih kelas 4 SD. Ya kali, bolos sekolah buat shooting, ngajarin yang gak bener tuh heuheuheu... Eh, tapiii... kalau ada sesuatu di luar rencana, mau tidak mau jadwal shooting ini akan berubah.

Sekarang ini tim skenario dimana saya terlibat di dalamnya sudan menyelesaikan tugas. Skenario sudah rampung dan sudah dibagikan ke seluruh tim. Namun pekerjaan saya belum selesai karena Nino minta dari buku ke film dan dari film ke buku. Doakan proses film ini berjalan lancar ya? Terima kasih. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian.

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments