Thoughts, stories and ideas.

Curug Betung - Legenda yang Tersembunyi

17th June 2016

Akhir bulan Mei lalu, Saya mengunjungi Curug Betung untuk sebuah proyek penulisan. Saya memilih menginap di Cilegon walaupun sebenarnya lebih dekat bila Saya menginap di Serang. Alasannya sederhana. Di Cilegon ada lebih banyak pilihan hotel yang bagus dibanding dengan yang ada di Serang.

Cilegon, kota industri

Cilegon adalah kota yang terletak di dekat pelabuhan penyeberangan Merak. Pelabuhan ini menghubungkan pulau Jawa dan Pulau Sumatera.
Di kota ini terdapat banyak industri. Yang terkenal tentu saja industri baja Krakatau Steel. Ada pula industri petrokimia juga beberapa industri lainnya.
Selain itu, terdapat pula Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya. Sayang, Saya tidak sempat ke sana.

alt

PLTU Suralaya
Sumber: republika.co.id

Umumnya kota industri, ada banyak truk pengangkut barang dan mobil-mobil besar di jalan utama yang menghubungkan jalan tol dan kawasan industri. Mobil Saya yang mungil jadi semakin terlihat imut dibanding mobil-mobil besar itu.

Saya memutuskan menginap di sebuah hotel di kawasan Cilegon Superblok. Dari luar, hotel tersebut kelihatan kecil. Ternyata di belakangnya ada waterpark. Horeee... Saya bisa berenang cantik.

alt

Waterpark
dok. pribadi

Malam harinya, Saya tidak bisa tidur. Waduh... Padahal esok harinya, perjalanan panjang ke Curug Betung menanti. Saya jadi penasaran, seperti apa sih Curug Betung itu? Walaupun sudah sejak tahun 2003 bermukim di Banten, sungguh saya baru tahu ada tempat yang namanya Curug Betung.

Berlelah-lelah ke Curug Betung

Curug Betung terletak di Desa Padarincang, Serang. Sebenarnya, dari Cilegon tidak terlalu jauh. Hanya saja, jalan ke Padarincang sedang proses pengecoran. Mobil-mobil yang lewat harus bergantian.
Hujan yang turun semalaman membuat jalan menuju Curug Betung menjadi becek. Akhirnya, Kami memutuskan jalan kaki karena khawatir mobil yang Kami tumpangi selip.

Uh! Ternyata berjalan di jalan tanah yang becek itu sulit, lo! Beberapa kali Saya kesulitan mengangkat kaki. Sepatu Saya seperti kena lem.

alt dok. pribadi

Mang Ariman, narasumber merangkap pemandu jalan, memotong sebuah dahan kayu dan menjadikannya tongkat untuk Saya. Horeee... Saya bisa lebih mudah berjalan.

Sebenarnya, untuk menuju Curug Betung sudah tersedia jalan setapak terbuat dari susunan batu-batu. Hanya saja, jalan setapak itu tertutupi semak-semak. Bukan karena penduduk setempat malas membersihkannya. Tapi karena tanah di sekitar kawasan curug betung sudah dibeli oleh orang-orang Jakarta, bukan lagi milik penduduk sekitar.

Suasana di sepanjang jalan begitu hening dan sepi. Hanya terdengar suara angin di sela-sela dedaunan dan deru air terjun di kejauhan. Mata Saya dimanjakan dengan pemandangan hijau yang menyegarkan.

alt

Pemandangan hijau
dok. pribadi

Setelah sempat jatuh terpeleset bahkan sampai harus ditarik oleh Mang Riman, akhirnya Saya tiba di curug Betung. Saya sempat melongo melihat curugnya. Ih... Kok cuma segitu saja?

alt

Curug kecil
dok. pribadi

Ternyata Saya salah duga. Saya berada di bagian atas air terjun. Jadi kalau Saya berdiri menghadap sungai, tepat di sisi sebelah kiri, air sungai itu akan jatuh ke bawah membentuk air terjun. Ketinggian air terjunnya kurang lebih 10 meter.

Sayang Saya tidak bisa memotretnya. Mang Riman melarang Saya mendekati tebing karena khawatir terpeleset ke sungai. Bisa sih lewat jalan setapak tapi semak-semaknya rapat sekali. Saya tdk bisa lewat huhuhu....

alt

Curug Betung
www.wartaharian.com

Sambil beristirahat di pinggir sungai, Saya menyimak legenda yang diceritakan oleh Mang Riman. Semilir angin, deru air terjun dan keheningan yang menenangkan membuat Saya seolah terlempar ke masa lalu. Saya baru tahu ada legenda Sangkuriang versi Padarincang. Duh, kemana saja saya selama ini?

Walaupun melelahkan, Saya tidak menyesal. Saya jadi terpikir untuk rajin olahraga jalan kaki supaya tidak mudah lelah bila suatu saat nanti kalau jalan-jalan ke hutan. Berada di alam bebas sungguh membuat saya merasa begitu hidup. Sejenak, saya bisa melupakan keriuhan kehidupan yang terkadang melelahkan. Di alam bebas, ada banyak energy positif yang bisa Saya serap sebagai bekal menghadapi “pertempuran” kehidupan.

artikel ini telah dimuat di http://rumahjamurkurcaci.com/web/berlehah-lehah-ke-curug-betung/ dengan beberapa penyesuaian

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments