Thoughts, stories and ideas.

Curhat di balik buku seri '77 Mantra'

22nd September 2016

Ada dua buku seri 77 yang tengah beredar di toko buku. Biru dan pink. Yang biru lebih dulu terbit.

alt

Saking sibuknya (ciyeeeh) saya sampai terlewat posting dua buku ini di blog. Padahal buku biru ini adalah buku solo nonfiksi pertama saya. Buku-buku nonfiksi sebelumnya berduet dengan dr. Yekti dan Monica Anggen.

alt

Saat pertama menulis buku biru, rasanya seperti berjalan di atas titian tali. Gamang. Draft pertama ditolak karena hampir sama dengan buku lain yang sudah ada di pasaran alias tidak ada istimewanya. Setelah menulis ulang, draft kedua baru di-acc. Saya beruntung karena Monica Anggen yang menjadi editor buku ini. Dia membuat buku ini jadi 'lebih', lebih enak dibaca, lebih mudah dimengerti dan lebih cantik.

alt

Setelah terbit dan beredar, saya jadi bingung. Ini promosinya gimana ya? Selama ini saya tidak dikenal sebagai motivator (dan gak dikenal dengan 'label' lainnya juga sih hehe...). Untungnya, selama ini saya menjalin hubungan baik dengan beberapa blogger buku. Mereka ini yang membantu promo buku-buku saya (termasuk si biru dan si pink).

Selang beberapa bulan kemudian, saya ditawari menulis seri 77 yang berwarna pink. Berkebalikan dengan warna covernya yang unyu unyu, proses menulisnya penuh drama dan airmata (ciyusan!)

Saya sempat ragu-ragu karena tenggat waktunya sangat ketat dan berdekatan dengan proyek penulisan cerita rakyat kemendikbud. But sometimes you have to push yourself to the limit so you know your limit. Dan itu yang saya lakukan. Benar-benar 'push to the limit'.

Yang tidak saya duga adalah proyek penulisan kemendikbud ternyata banyak 'ini itu'-nya. Ditambah lagi saya terserang PMS parah. Lengkap sudah. Hari-hari saya jadi penuh drama dan airmata. Sempat tertidur di atas laptop setelah menangis karena kesal.

Suatu hari saya ke Gramedia dan saya melihat si Pink nangkring si rak buku. Lah... Sudah terbit ternyata!

alt

Selang dua hari kemudian saya menerima kontrak dan hari berikutnya 3 bukti terbit tiba dengan selamat. Senang, pastinya. Tapi bukan berarti tidak ada ketakutan dan kekhawatiran. Khawatir dibilang inilah, itulah, anulah. Belum lagi bisik-bisik dan komentar blablabla bliblibli sigh eh tapi gak mudah loh bikin buku nonfiksi. Suer!

Si Biru dan si Pink ini pasti jauh dari sempurna. Saya hanya berharap, mudah-mudahan kedua buku ini membawa manfaat bagi pembacanya.

alt

Last but not least, saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Saya bisa seperti sekarang ini karena adanya para pembaca. Nothing I can say but luv you dear readers...

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments