Thoughts, stories and ideas.

Cara saya mengatasi 'hilang mood' dalam menulis

14th May 2017

Beberapa hari yang lalu, seseorang mengirim DM di IG saya. Dia bertanya bagaimana caranya mempertahankan mood dalam menulis agar tulisan bisa selesai dengan baik. Awalnya, dia semangat sekali menulis kemudian hilang mood dan dia kesulitan menyelesaikan tulisannya. Akhirnya banyak tulisannya yang tidak selesai.

Duh... tersanjung saya ada yang minta saran. Serasa penulis beneran heuheuheu....

Saya tahu bagaimana sulitnya mempertahankan mood saat menyelesaikan tulisan (terutama tulisan panjang) karena kadang-kadang saya mengalaminya juga.

Saat mengerjakan skenario film 'Petualangan Naya dan Moro', saya mengalami mood swing. Mood saya berubah-ubah dengan cepat. Pagi semangat, tiba-tiba siangnya nge-drop, kemudian merasa hopeless. Malamnya semangat lagi. Besok paginya jadi mellow. I just feel I wanna give up... hiks....

Begitulah si mood itu mempengaruhi saya. Padahal, seorang suhu dalam dunia tulis menulis mengatakan: jangan menunggu mood baru menulis. Kalau saya, tulisan saya jadi 'garing' kalau saya memaksakan diri menulis saat mood saya tidak bagus. Beda orang, beda gaya. Berbeda itu tidak salah, iya kan? Iya dong...

Supaya tulisan bisa selesai di tengah-tengah mood yang naik turun seperti roller coaster, ini yang saya lakukan:

1. Matikan laptop dan keluar dari rumah. Bercerita, tertawa, membicarakan hal-hal tidak penting bersama sahabat yang sudah berteman belasan tahun, mampu menaikkan mood yang nge-drop. Kalau menurut saya, sebaiknya berkumpullha dengan yang berbeda profesi. Perempuan cenderung memandang perempuan lain yang berprofesi sama sebagai pesaing. Itu menurut saya loh yaaa... 

alt

2. Hirup aroma yang bisa menaikkan mood. Kalau saya, saya suka dengan aroma kopi. Mood yang nge-drop bisa naik lagi. Untungnya di pasar modern BSD sekarang bermunculan kedai kopi yang racikannya lumayan enak dan harganya terjangkau. Ditambah lagi makanannyan pas dengan selera emak-emak macam saya ini. Berhubung saya sedang tidak boleh minum kopi, saya memesan minuman lain. Yang penting, masih bisa mencium aroma kopi. It's a kind of heaven. Lebay? Biarin, deh....

alt

3. Berpelukan. Enggak mesti pelukan dari pasangan. Bisa dari sahabat, adik, kakak atau anak. Saya suka pelukan dengan si bungsu. Mumpung dia masih mau dipeluk heuheuheu.... setelahnya saya merasa mampu menghadapi dunia *apa siiihhh....

alt

4. Jauhi media sosial. Hilang mood dalam menulis bisa merembet jadi bad mood dan perasaan jadi lebih sensitif. Baca postingan yang biasa-biasa saja sekalipun, bisa bikin baper. Ujung-ujungnya mood malah makin nge-drop.

5. Yang terpenting: berdoa minta diberikan keteguhan hati agar apa yang sedang kita kerjakan bisa selesai. Bukankah kita hanyalah pelakon?

Kesannya, menulis itu penuh drama, ya? Buat saya sih, iya... terutama saat bad mood melanda. Kalau kondisi mood stabil, menulis menjadi jauh lebih mudah. Itu kalau saya loh yaaa...

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments