Thoughts, stories and ideas.

BEHIND STORY #PSA 2

17th January 2014

Bulan Desember tahun 2013 lalu saya mengikuti lomba menulis yang diadakan oleh Grasindo yaitu Publisher Searcing for Authors 2 (#PSA 2). Walaupun dua buah novel remaja saya diterbitkan oleh Grasindo, saya pikir tetap perlu mengikuti ajang lomba ini. Anggap saja uji nyali. Siapa tahu nasib baik tengah berpihak kepada saya, hehe..Kalau menang kan lumayan. Bisa membuat portofolio saya jadi baguuuzz.. Eh, sebelumnya saya sudah mencari informasi. Kalau naskahnya tidak menang masih ada kemungkinan diterbitkan gak ya? Ternyata..masih! Artinya, kalaupun saya tidak menang, harapan saya, mudah-mudahan naskah saya dianggap layak terbit.            Ternyata oh ternyata.. menulis dengan tema yang sudah ditentukan itu tidak mudah! Browsing - browsing, googling - googling, kasak kusuk sana sini. Dengan jumlah naskah masuk yang pastinya ratusan atau bahkan ribuan, bagaimana caranya supaya bisa ‘mencuri’ perhatian dewan juri?            Akhirnya saya memutuskan menulis cerita persahabatan dan petualangan dengan setting Taman Nasional Tanjung Puting. Kenapa Tanjung Puting? Sederhana saja, saya belum menemukan novel dengan setting Tanjung Puting hehe..            Cara paling mudah menyusun novel adalah dengan dating ketempat yang ingin dimasukkan sebagai setting. Masalahnya, saya tidak mendapat ijin dari suami. Dia keberatan saya ‘terbang’ ke Pangkalan Bun kemudian berkendara ke Pelabuhan Kumai dan menyusuri Sungai Sekonyer dengan perahu klotok ke Tanjung Puting. Mungkin juga dia cemburu dengan Orang utan yang akan saya temui.            Untungnya salah seorang teman saya tinggal di sana. Untungnya lagi, hubungan kami cukup terjaga. Sesekali bertegur sapa atau saling mengomentari di jejaring sosial. Paling tidak, saya tidak termasuk kategori ‘gak pernah bertegur sapa ujug – ujug minta tolong’.            Dengan kalimat yang saya susun secantik mungkin, saya minta bantuannya menjadi narasumber dan korektor naskah saya. Untungnya dia tidak keberatan. Horeee..            Outline sudah disusun, narasumber ada, first reader sudah siap, lalu apakah prosesnya jadi lancar? Tentu tidak dong, haha.. Ini adalah naskah yang paling memeras emosi dan kesabaran saya. Bolak balik macet, bolak balik buntu, hilang passion, hilang ide, putus asa, sempat terfikir untuk mundur. Pokoknya huru hara banget deh! Walaupun teman saya sudah meminjamkan foto - foto perjalanan dia ke Tanjung Puting, bercerita detail, tetap saja saya tidak dapat ‘feel’- nya.            Akhirnya saya menyerah. Saya hanya berusaha menyelesaikan naskah itu kemudian mengirimkannya sebelum tenggat waktu. Tapi tetap saja ada pertanyaan yang menggelitik hati saya, masa’ udah capek – capek nulis gak terpilih diterbitkan? Akhirnya seperti lingkaran setan. Baca lagi, revisi lagi, ulang lagi, macet lagi, putus asa lagi..ampun dijeee…!            Hasilnya? Naskah saya memang tidak menang. Tapi naskah saya yang berjudul Oishii Jungle masuk dalam kategori naskah pilihan! Horeee.. eh, Alhamdulillah.. Sulit menggambarkan kegembiraan saya. Yang terbayang adalah: malam –malam panjang mengetik, nangis karena kesal, secangkir kopi hangat yang keburu dingin tanpa sempat diteguk.. Ah.. Perjuangan itu… Selalu ada harga yang harus dibayar untuk setiap yang kita peroleh. Pastikan saja kita tidak membayar terlalu mahal. Intinya sih, gak usah beli kopi Starbuck buat menemani mengetik. Mahal! Eh, salah fokus ya? Wkwkwkwk..

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments