Thoughts, stories and ideas.

Banda, the dark forgotten trail

6th August 2017

Judul film: Banda, the dark forgotten trail
Sutradara: Jay Subiyakto
Penulis: Mohammad Irfan Ramly
Produser: Sheila Timothy
Narrator: Reza Rahadian (Indonesia) Ario Bayu (English)

alt

Saya termasuk 'pemilih' dalam urusan menonton film. Namun, pertama kali melihat iklannya di Harian Kompas, saya langsung berkeinginan menonton film ini. Apalagi setelah membaca artikel 'Jalur Rempah' di harian yang sama. Sayang, saya terlewat menghadiri pameran 'Jalur Rempah'. Beginilah kalau kudet alias kurang update, huhuhu....

Tahun ini, genap 350 tahun berlangsungnya perjanjian Breda, yang menetapkan penukaran Pulau Run di Banda, Maluku Tengah, dengan Manhattan di New York City, Amerika Serikat. Sayangnya, sejarah legendaris itu hanya menyisakan kenangan pilu (Kompas, 26 Juli 2017)

Lewat film dokumenter Banda, the dark forgotten trail, saya diajak mengenal Pulau Banda, letak geografisnya, masyarakatnya, budayanya, kekayaan alamnya dan sejarahnya. Mulai dari masa kejayaannya, saat menjadi rebutan bangsa asing karena hasil pala-nya, hingga masa kini, saat Banda seolah terlupakan dan terpinggirkan.

Banda adaah bagian dari sejarah Indonesia. Dari pelajaran sejarah, saya tahu beberapa tokoh penting pergerakan kemerdekaan Indonesia ditangkap Belanda dan dibuang ke Banda. Saya baru tahu alasan Belanda memilih Pulau Banda setelah menonton film ini.

Beberapa bagian film menyuguhkan cerita gelap. Tentang kerusuhan berbau SARA yang terjadi di Ambon dan menyebar hingga ke Banda. Saksi hidup yang sudah lanjut usia itu menuturkan cerita dengan mata berkaca-kaca, membuat hati saya gerimis dan tercekat. Ah, betapa kita mudah terbakar dan terhasut oleh sebuah berita...

Informasi yang disampaikan dalam film berdurasi +/- 90 menit ini cukup 'padat'. Saya harus membagi konsentrasi antara menyimak narasi yang dibawakan oleh Reza Rahadian dengan intonasinya yang membius dan menikmati suguhan pemandangan cantik Pulau Banda yang terpampang di layar lebar. 

Saat saya menonton film ini, separuh studio terisi penonton yang sebagian besar berusia 'matang' seperti saya. Sayang ya... Padahal, seharusnya generasi muda menonton film ini. Supaya mereka 'melek' sejarah dan bangga menjadi bangsa Indonesia. 

alt

Saya sependapat dengan Goenawan Mohammad, film ini 'pas' untuk bulan Agustus, bulan di mana bangsa ini merayakan ulang tahunnya. Semoga film ini bisa membangkitkan semangat kita untuk mengulang kembali kejayaan Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku. Jayalah Negeriku.

Tips:

  • Tidak semua jaringan 21 menayangkan film ini. Jadi, jangan lupa cek website dan siapkan waktu yang cukup agar tidak terburu-buru selama di perjalanan.

  • Menontonlah dengan konsentrasi penuh agar bisa menyerap semua informasi yang disampaikan sepanjang film.

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments