Thoughts, stories and ideas.

Bahasa Barbie

16th December 2012

“Huh.. dasar sombong! Mentang-mentang cantik!” sambil bersungut-sungut kesal Shasa melemparkan tubuhnya ke kursi yang ada di ruang tamu.

“Loh.. sudah pulang? Kok cepat sekali?” Mama yang muncul dari arah kamar tidur bertanya dengan heran. “Loh.. kok mangganya belum diantarkan?” tanyanya lagi demi dilihatnya bungkusan plastik di dekat tempat Shasa duduk.

Shasa tidak menjawab. Ia hanya diam sambil cemberut.

“Ada apa ini?” Mama bertanya sambil duduk disamping Shasa. “Ayo dong cerita sama mama.”

“Mama sih pakai acara menyuruh Shasa mengantarkan mangga segala. Shasa jadi bête nih.”

Mama menatap anak semata wayangnya dengan bingung. Tadi mama memang menyuruh Shasa mengantarkan mangga ke tetangga baru yang rumahnya di depan rumah mereka. Musim mangga kali ini pohon mangga yang ada di halaman rumah mereka berbuah cukup banyak. Mama membagi-bagikannya kepada para tetangga termasuk tetangga yang baru saja pindah ke rumah yang ada di depan rumah Shasa.

“Memangnya ada apa sih? Mama jadi bingung.”

“Shasa kan tadi ke rumah tetangga baru kita itu, Ma. Shasa lihat anak yang punya rumah sedang main ayunan di halaman samping. Shasa sudah ketok-ketok pintu pagarnya. Bukannya membukakan pintu, eh dia malah asyik main ayunan. Huh.. mentang-mentang cantik seperti boneka Barbie! Sombong sekali!” Shasa nyerocos menumpahkan unek-uneknya. “Shasa mau panggil namanya tetapi Shasa tidak tahu  namanya siapa. Ya sudah, Shasa pulang saja.”

Mama mengerutkan kening. Masa’ sih tetangga baru mereka seperti itu? Anak si empunya rumah memang cantik sekali. Rambutnya agak pirang. Kulitnya putih. Hidungnya mancung. Maklum saja, ayahnya berasal dari Jerman.

“Mungkin dia tidak mendengar,” kata mama.

“Memang sih, dia duduk membelakangi pintu pagar tapi masa’ sih dia tidak mendengar suara pagarnya diketok-ketok,” Shasa berkata dengan jengkel.

“Coba nanti kita kesana bersama-sama ya,” kata mama.

“Ah, mama saja yang kesana sendiri. Shasa malas.” Tolak Shasa

“Loh.. tidak boleh begitu dong, Sha. Bagaimanapun mereka kan tetangga kita. Tidak baik bermusuhan dengan tetangga.”

“Ihh.. kan dia yang sombong, Ma.” Shasa masih menolak,

Mama melongokkan kepala lewat jendela. “Kita kesana yuk! Mumpung Ibu yang punya rumah sedang menyiram halaman,” ajak mama.

Sambil cemberut, Shasa mengekor mama yang sudah melangkah keluar. Ternyata Ibu itu menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Ia bahkan setengah memaksa mereka singgah untuk sekedar menikmati teh hangat sambil saling berkenalan.

Sebenarnya Shasa enggan menerima ajakan itu namun mama sudah melangkah lebih dulu. Mau tidak mau Shasa mengikutinya sambil bersungut-sungut di dalam hati.

“Sebentar ya, Tante panggil putri Tante dulu supaya dia bisa berkenalan dengan Shasa.”

Tak lama kemudian, Tante Menik muncul bersama seorang anak perempuan sebaya Shasa. Shasa memperhatikan lekat-lekat . Gadis itu tersenyum. Sepasang lesung pipi membuatnya terlihat semakin cantik. Kedua bola matanya yang berwarna biru memperhatikan Shasa.

“Amelia, ini Shasa yang tinggal di depan rumah kita.” Tante Menik berkata perlahan. Kedua tangannya bergerak-gerak membentuk isyarat.

Shasa tersentak melihatnya. Pantas saja tadi Amelia tidak mendengar pintu pagarnya diketok-ketok. Ternyata…

Amelia mengulurkan tangannya menjabat tangan Shasa. Kedua tangannya kemudian bergerak-gerak.

“Amelia senang sekali bisa berkenalan dengan Shasa. Mudah-mudahan Shasa mau berteman dengan Amel.” Tante Menik menerjemahkan isyarat Shasa.

“Shasa juga senang punya teman baru. Apalagi teman barunya cantik sekali seperti boneka Barbie. Iya kan, Sha?” Mama berkata sambil tersenyum. Sedikit tersipu, Shasa menatap mama penuh rasa terima kasih. Untung ada Mama yang menolong menjawabkan.

Tante Menik kembali menggerak-gerakkan tangannya. Kali ini giliran Amelia yang tersipu malu. Pipinya yang putih bersemu merah. Mereka pun kemudian asyik bertukar cerita. Tentu saja Tante Menik harus menerjemahkannya ke dalam bahasa isyarat agar Amelia mengerti. Tak lama Shasa dan mama pamit pulang karena hari sudah menjelang maghrib. Shasa dan Amelia bahkan sudah membuat janji akan bersepeda bersama sore berikutnya.

“Ternyata Amelia bukan anak yang sombong ya,” kata mama sambil menggandeng tangan Shasa masuk ke dalam rumah

“Iya deh, Shasa minta maaf sudah menuduh yang tidak-tidak.” Mama tertawa kecil mendengarnya. “Mulai besok Shasa mau belajar bahasa Barbie ah,” kata Shasa lagi.

“Bahasa Barbie?” mama mengernyitkan kening mendengarnya.

“Itu loh, Ma, bahasa isyarat supaya Shasa bisa mengobrol dengan Amelia. Habis, Amelia cantik sekali seperti boneka Barbie. Jadi bahasa isyaratnya Shasa namakan bahasa Barbie.” Shasa menerangkan.

Mama tergelak mendengarnya. Ada-ada saja Shasa ini.. Ha.. Ha.. Ha..

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments