Thoughts, stories and ideas.

Argo Anggrek - Dulu dan Kini

20th April 2018

Pertama kali saya merasakan naik Argo Bromo Anggrek - lebih dikenal dengan Argo Anggrek - tahun 1998 (kalau tidak salah) saat tugas kantor ke Surabaya. Seneng banget. Maklum, Argo Anggrek belum lama diluncurkan. Dari yang saya baca, kereta eksekutif yang melayani rute Jakarta - Surabaya itu diluncurkan pada tanggal 24 September 1997. Berhubung tugas kantor, saya tidak perlu keluar uang untuk bisa merasakan naik kereta eksekutif kasta tertinggi. Yang gratis memang menyenangkan haha…

Jum’at minggu lalu (13/4) saya merasakan kembali naik kereta kebanggaan daop 8 Surabaya ini. Kali ini hanya sampai Semarang.

alt

Setelah 20 tahun berlalu, ini yang saya rasakan:

Dulu rasanya kereta Argo Anggrek ‘goyang’ sekali. Dari yang saya baca, penyebabnya karena belum semua ruas jalur kereta sepanjang Jakarta - Surabaya mendukung kereta cepat seperti Argo Anggrek ini.

Sekarang, Argo Anggrek jauh lebih nyaman, tidak segoyang dulu. Setelah browsing internet, saya jadi tahu kereta Argo Anggrek ini menggunakan suspensi udara sehingga kereta seperti melayang. Agak seram sebenarnya membayangkan kereta sepanjang ini melayang. Udah kayak film horor aja haha

Dulu saya naik kereta yang berangkat malam hari, dari Gambir maupun dari Surabaya. Jadi tidak ada yang dilihat. Hanya ada pemandangan warna hitam di jendela.

Kali ini saya naik kereta yang berangkat pk 9.30 dari Gambir. Bisa melihat pemandangan sawah dan laut sepanjang perjalanan. Yang membuat saya tambah senang, Nino anteng selama perjalanan. Kerjaannya makan, tidur, liat pemandangan, makan, tidur, gangguin kakaknya... terus aja kayak gitu hahaha

Dulu, karena berangkat malam, saya tidak mencicipi makanan yang ditawarkan di atas kereta. Saya tidur sejak mulai kereta berjalan :D

Kali ini, selepas dari Gambir, ada mbak prami (sebutan untuk pramugari kereta) dan mas prama (sebutan untuk pramugara kereta) yang menawarkan makanan. Menunya nasi goreng, nasi campur, nasi bakar dan hokben. Nasi campurnya enak, sayang acar kuningnya kurang banyak wkwkwkwk... menurut pak suami, nasi bakarnya juga enak. Kalau hokben sih rasanya standar lah ya...

alt

Pukul 12 kurang bbrp menit, kereta berhenti di Cirebon. Lepas dari stasiun Cirebon, Mbak prami dan Mas prama menawarkan menu makan siang. Pak suami memesan nasi ayam bakar. Katanya sih enak.
Pukul 14 kereta berhenti di Pekalongan. Lepas dari pekalongan mbak prami menawarkan snack roti, keripik, teh, kopi. Nino milih keripik. Pak suami pilih kopi.
Mungkin ini juga penyebab Nino anteng. Banyak makanan yang ditawarkan hahaha

Kesimpulannya:

  1. Tidak heran bila PT KAI mengklaim kenyamanan kereta ini sekelas pesawat. Kursinya seperti kursi pesawat. Ada tempat sandaran kaki. Ruang kakinya pun luas. Jarak antar kursi lega. Semoga ke depannya, ada tv di setiap sandaran kursi.

  2. Ada meja yang dilipat dan dimasukkan ke ruang di bawah sandaran tangan. Sayang posisinya kurang tinggi, kurang enak untuk posisi makan.

  3. Tidak perlu khawatir kelaparan. Makanan dan minuman hangat tersedia. Tinggal pilih.

  4. Seperti pesawat, ada majalah On Track yang berisi info wisata dan berita tentang PT KAI. Ada lomba fotonya juga di akun Instagram milik PT KAI. Saya ikutan juga :>

alt

It's really nice experience :D Mudah-mudahan bisa merasakan naik kereta api rute lainnya :D dan mudah-mudahan ada yang bayarin haha

Ibu dua orang anak yang tidak bercita-cita menjadi penulis. Hobi membaca dan mengoleksi buku sejak kecil. Kini mendapati dirinya terjerat di antara dua puluh enam abjad.

View Comments